Aksi Kekerasan Sektarian Melanda Kota Gurun Aljazair
Selasa, 18 Maret 2014 13:54 WIB
Ghardaia, Aljazair, (Antara/AFP) - Kegiatan sehari-hari lumpuh di Ghardaia, satu kota Aljazair yang indah di ujung Sahara, yang berubah menjadi kota hantu akibat gelombang aksi kekerasan.
Lokasi warisan dunia UNESCO, sekitar 600Km selatan Aljiers, dilanda aksi kekerasan sejak Desember akibat bentrokan antara masyarakat Chaamba keturunan Arab dan mayoritas Mozabite, pribumi Berber yang anggota sekte Muslim Ibadi.
Permukiman oasis yang bependuduk sekitar 90.000 jiwa itu sepi begitu juga pasarnya yang biasanya ramai lengang pada Senin.
Pasukan keamanan mematroli jalan-jalan setelah penggelaran personil tambahan, dan setelah perdana menteri Aljazair yang baru Youcef Yousfu mengunjungi kota itu Ahad untuk menenangkan situasi.
Aksi kekerasan terbaru itu meletus setelah ratusan anggota etnik Mozabite yang melarikan diri dalam aksi kekerasan sebelumnya pulang ke rumah-rumah mereka menemukan banyak yang hancur atau rusak parah, kata sumber-sumber lokal.
Tiga pemuda Chaamba tewas pada Sabtu malam, dalam situasi yang tidak jelas, dan 190 orang cedera termasuk 29 anggota pasukan keamanan, kata sumber-sumber medis.
Ribuan orang menghadiri satu acara pemakaman bagi ketiga korban tewas itu, dengan beberapa orang membawa keranda hijau dengan mayat-mayat mereka dibalut dengan kain kafan berwarna putih dan yang lainnya membawa satu bendera Aljazair.
Imam yang memimpin acara itu menyeru masyarakat bertoleransi, "bersatu dalam mempertahankan negara" dan mendesak masyarakat tidak melakukan balas dendam.
Lima orang tewas dalam gelombang aksi kekekrasan sebelumnya antara masyarakat-masyarakat yang berseteru, antara Desember dan Februari.
Hamou Mesbah, seorang anggota senior oposisi Front Kekuatan Sosialis (FFS) Sabtu menyebut kota Ghardaia sebagai "kota hantu" dengan mengatakan Mozabite yang tinggal di perkampungan yang dihuni berbagai suku yang properti emreka dibakar masih menunggu untuk menemukan harta milik mereka.
Beberapa toko yang dibakar milik para anggota Chaamba masih membara Ahad malam, kendatipun usaha-usaha dilakukan oleh para petugas pemadam kebakaran untuk mmadamkan api.
Kerusuhan akibat aksi kekerasan terahir itu sulit dievaluasi, tetapi Bahmed Baabaoumoussa, seorang anggota komite bagi perkampungan Thnua, menyebut jumlah kerugian di sana saja lebih dari empat juta euro.
Toko-toko di sepanjang jalan utama, sebagian besar milik warga Arab, semuanya tutup, Senin.
Kedua masyarakat itu yang telah hidup damai selama beberapa abad tetap seperti halnya di daerah lain , kesempatan ekonomi yang terbatas, kendatipun Aljazair kaya minyak dan gas, dilanda ketegangan sosial.
Perdagangan selalu dikuasai kelompok ekonomi mapan Ghardaia, dan seorang polisi yang bertugas di jalan utama yang sepi itu mengatakan ia tidak dapat membayangi kota itu tanpa ada toko dan pusat bisnis yang buka.
Selama 30 tahun para turis banyak datang ke sana, terutama untuk membeli barng-barang perhiasan dan karpet buatan daerah itu, yang juga untuk melihat desa-desa tradisional atau ksour. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Pasaman Barat tingkatkan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak
28 February 2026 18:51 WIB
Kasus kekerasan seksual santriwati di Lombok Tengah masuk tahap penyidikan
20 February 2026 19:50 WIB
Polres-Pemkab Pasaman Barat tingkatkan penyuluhan cegah kekerasan perempuan dan anak
11 February 2026 19:49 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018