Arusah, Tanzania, (ANTARA/Xinhua-OANA) - Tanzania dan negara lain Afrika telah didesak agar melakukan tindakan sungguh-sungguh guna menyelamatkan masyarakat asli, seperti Hadzabe --yang berada di ambang kepunahan. Presiden Kelompok Kerja bagi Rakyat Asli Komisi Afrika mengenai Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi Rakyat (ACHPR) Soyata Maiga mengeluarkan pernyataan itu, Ahad (25/11), di Arusha, Ibu Kota Safari Tanzania utara, tempat ia menghadiri peluncuran resmi film tentang hak suku asli di Afrika. Hadzabe termasuk di antara sedikit kelompok suku yang biasanya dikenal sebagai "orang semak" karena penolakan mereka berbaur dengan permukiman semi-kota dan pertanian di dekat mereka. Suku lain yang sama dengan mereka adalah kelompok Khoisan di Kalahari --yang membentang di Namibia sampai ke dalam wilayah Botswana-- dan beberapa daerah kantung lain di sepanjang Danau Eyasi di bagian utara Tanzania. Kebudayaan Hadzabe telah terbukti ulet terhadap semua cara hidup yang menjauhkan diri dan pelanggaran barat, padahal suku yang dulu kokoh --Maasai-- akhirnya mulai kalah, atau kehilangan semua kecuali jangkar kokoh tradisional mereka. Secara keseluruhan, suku Hadzabe berjumlah tak lebih dari 1.500 orang di daerah kantung mereka, Yaeda Chini. Maiga menyampaikan keprihatinan mengenai bahaya yang dihadapi suku asli di benua tersebut, demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin. Ia menggambarkan situasi itu disebabkan oleh kegagalan sebagian negara untuk memberlakukan hukum dan kebijakan yang bersahabat dengan masyarakat semacam itu. Menurut Maiga, masyarakat dan orang asli di Afrika menderita akibat sejumlah pelanggaran hak asasi manusia khusus yang seringkali bersifat kolektif. Menurut Piagam Afrika, itu adalah instrumen penting untuk mendorong dan melindungi hak bagian penting dalam masyaraka Afrika. Ia menyeru semua negara agar mengakui peran masyarakat minoritas di negara mereka masing-masing. Di Tanzania, jumlah orang Hadzabe dilaporkan merosot akibat sejumlah tantangan, termasuk perubahan iklim. (*/sun)