Kirkuk, Irak, (Antara/Reuters) - Pemboman dan penembakan menewaskan sedikitnya 14 orang di Irak utara pada Jumat (20/12), terbaru dalam serentetan kekerasan sengit di negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Tidak segera jelas siapa yang berada di balik serangan tersebut, tetapi gerilyawan Islam Sunni termasuk Al Qaida telah mendapatkan kembali pijakan di bumi Irak, dan berusaha merongrong pemerintah yang dipimpin Syiah. Dua bom pinggir jalan meledak di halaman yang digunakan untuk menjual ternak di kota utara yang disengketakan Tuz Khurmato, 170 km (100mil) di utara Baghdad, menewaskan sembilan orang dan melukai 24 lainnya, kata polisi dan para petugas medis. Di kota utara Hawija, 210 km utara ibu kota, kelompok gerilyawan menyerbu dua rumah yang berdekatan, menembak mati lima anggota keluarga yang mereka miliki dan kemudian membom bangunan itu sebelum melarikan diri. Hawija, dekat kota Kirkuk, telah menyaksikan pertempuran antara kelompok-kelompok pemberontak Sunni dalam beberapa bulan terakhir ini saat sayap Al Qaida Irak - yang bergabung dengan sejawatnya dari Suriah tahun ini - berusaha untuk menundukkan kelompok lain dan memperkuat kontrol. Para pejabat lokal di Kirkuk percaya bahwa serangan Hawija adalah bagian dari konflik itu. Jasa-jasa keamanan Irak memperkirakan lebih banyak terjadi serangan pada beberapa hari ke depan menjelang hari suci Syiah Arbaeen pekan depan. Pada Kamis (19/12), bom bunuh diri di Irak menewaskan sedikitnya 36 orang dalam serangan yang menargetkan peziarah Syiah. Perkembangan kekerasan telah menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya pertumpahan darah yang terjadi pada 2006-2007, ketika puluhan ribu orang meninggal. (*/jno)