Masa Tugas Sekjen NATO Diperpanjang Dua Bulan
Kamis, 12 Desember 2013 6:09 WIB
Brussel, (Antara/AFP) - Masa tugas Sekretaris Jendral NATO Anders Fogh Rasmussen akan diperpanjang dua bulan hingga September 2014 untuk mempersiapkan dan mengawasi pertemuan puncak mendatang para pemimpin aliansi itu di Inggris.
Rasmussen seharusnya menyelesaikan tugas empat tahunnya pada Juli 2013 namun diperpanjang setahun hingga Juli 2014.
Para duta besar negara anggota NATO kini sepakat bahwa Rasmussen akan tetap bertugas hingga akhir September 2014 agar ia "bisa mempersiapkan dan memimpin" pertemuan puncak yang akan diadakan di South Wales pada bulan tersebut, kata aliansi itu dalam sebuah pernyataan, Rabu.
Pertemuan puncak terakhir Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) diadakan di Chicago pada 2012.
Pertemuan puncak 2014 itu berlangsung sebelum penarikan terencana pasukan NATO dari Afghanistan, operasi militer terbesar dan terlama dari organisasi tersebut.
NATO saat ini berencana menempatkan misi pelatihan dan asistensi di Afghanistan setelah 2014 namun masa depan rencana itu meragukan karena Presiden Afghanistan Hamid Karzai masih menolak menandatangani pakta keamanan dengan Washington mengenai status operasional dan legalnya.
Baik Washington maupun NATO mengatakan, aliansi tersebut tidak mungkin berada di Afghanistan tanpa perjanjian semacam itu.
AS berusaha menyelesaikan perjanjian itu sebelum akhir tahun ini, namun Karzai mengisyaratkan bahwa negaranya hanya akan menandatangani kesepakatan setelah pemilihan presiden pada April tahun depan.
Gerilyawan Taliban yang memerangi pemerintah Afghanistan dukungan AS menyatakan mendukung penolakan Karzai untuk menandatangani sebuah perjanjian keamanan dengan Washington.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara dikirim ke Afghanistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.
Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan.
NATO bertujuan melatih 350.000 prajurit dan polisi Afghanistan pada akhir 2014 untuk menjamin stabilitas di negara itu, namun tantangan-tantangan tetap menghadang dalam proses peralihan itu.
Desersi, penugasan yang buruk dan semangat rendah termasuk diantara masalah utama yang menyulitkan para komandan NATO dan Afghanistan.
Pada Oktober 2011, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Perjalanan Irman Gusman Menembus Samudra Mentawai: Antara Tugas Dinas dan Pesona Alam Sikerei
15 October 2025 15:48 WIB
Perbanyak cerita sukses reforma agraria, Wamen Ossy dorong penguatan peran kepala daerah dalam GTRA
17 September 2025 9:38 WIB
Satgas PKH tertibkan aktivitas illegal seluas 3.043,17 hektare di Cagar Alam Maninjau (Video)
05 August 2025 17:42 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018