PBB: Pemerintah Sudan, Pemberontak Halangi Petugas Vaksinasi
Selasa, 12 November 2013 7:11 WIB
PBB, (Antara/AFP) - Pemerintah Sudan dan satu kelompok utama pemberontak menolak untuk membiarkan para pekerja Perserikatan Bangsa Bangsa memvaksinasi 160.000 anak polio di negara-negara bagian yan dilanda konflik meskipun menyetujui gencatan senjata, kata PBB Senin.
Direktur operasi kemanusiaan PBB John Ging mengatakan ia telah mengajukan banding kepada Dewan Keamanan PBB untuk menekan guna mengakhiri apa yang ia sebut "usaha untuk menggagalkan" oleh
Pemerintah Sudan dan oposisi Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan Utara
(SPLM-N) pada akses kemanusiaan.
Polio telah muncul kembali di Afrika Timur, dan PBB khawatir bahwa konflik di negara bagian Kordofan Selatan Sudan dan Blue Nile bisa membantu menyebarkan lagi.
Para pemberontak separatis telah berjuang menghadapi pasukan pemerintah di dua negara bagian sejak pertengahan 2011.
PBB menengahi gencatan senjata antara pasukan pemerintah dan SPLM-N untuk 5-12 November, namun kedua pihak tetap saja tidak membiarkan pekerja bantuan melakukan tugasnya, kata Ging kepada wartawan, mengungkapkan frustrasi dan hambatan untuk mendapatkan
akses kemanusiaan.
Ia mengatakan kedua pihak telah sepakat bagaimana vaksinasi akan dilaksanakan, tetapi SPLM-N meminta "pertemuan terakhir" dan pemerintah menolak pembicaraan.
"Sayangnya dan biasanya" PBB tidak diberikan akses, katanya, dan menambahkan bahwa pekerja PBB siap untuk memasuki daerah konflik yang dikuasai pemberontak dalam satu hari dan vaksinasi bisa selesai dalam empat hari.
Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 anggota mengeluarkan resolusi pada April tahun lalu menuntut lebih banyak akses ke dua negara bagian, dan Ging mengatakan PBB sekarang harus menggunakan
"kewenangan besar" untuk memberikan tekanan pada kedua pihak.
Dia mengatakan untuk resolusi itu telah dimulai pembicaraan antara kedua pihak, namun "sayangnya kita telah berusaha digagalkan dengan proses dan diskusi serta perselisihan yang meningkat tanpa ada akses."
PBB telah memotong kembali rencana besar-besaran - untuk mengirimkan makanan dan perlengkapan bantuan lainnya ke Kordofan Selatan dan Blue Nile - untuk fokus hanya pada tindakan vaksinasi.
"Dan pada kini juga gagal," kata Ging.
"Mereka memiliki alasan. Mereka menunjuk jari dan satu sama lain tentu saja, tapi intinya adalah mereka tidak membayar harga," katanya, menyoroti bagaimana 800.000 orang telah berada di zona konflik selama 18 hari tanpa bantuan luar.
Dubes China untuk PBB Liu Jieyi, Ketua Dewan Keamanan untuk November, mengatakan hal itu "mengganggu" karena kampanye polio telah diblokir dan dewan mengingatkan bagaimana pihaknya bisa bertindak. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemerintah pusat bantu perbaikan tiga rumah di Pariaman terdampak bencana hidrometeorologi
13 February 2026 18:22 WIB
Bulog Bukittinggi serap Cadangan Beras Pemerintah di Pasaman dan Pasaman Barat
12 February 2026 19:21 WIB
WFA Lebaran 2026 Ditetapkan, Pemerintah Imbau Perusahaan Tak Pangkas Cuti Karyawan
12 February 2026 16:03 WIB
Pemerintah bersama warga Pariaman alihkan arus sungai ancam rumah pasca-bencana
09 February 2026 18:32 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018