Taufiq Ismail: Budaya Baca Pelajar Indonesia Rendah
Jumat, 23 Agustus 2013 6:47 WIB
Padang, (Antara)- Sastrawan Taufiq Ismail menilai budaya baca pelajar dan generasi muda Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia apalagi negara maju seperti di Eropa dan Amerika.
"Berdasarkan perbandingan yang pernah dilakukan, rata-rata pelajar sekolah menengah atas di Singapura dan Thailand membaca 5-7 buku dalam tiga tahun, di negara Eropa dan Amerika hingga 32 buku , namun di Indonesia nol buku dalam tiga tahun", kata Taufiq di Padang, Kamis.
Ia menyampaikan hal itu sebagai pembicara pada "road show" 2013 publikasi gerakan Indonesia Membaca dengan tema "Perpustakaan Sahabat Terbaik Keluarga Indonesia", di Auditorium Kantor Gubernur Sumbar.
Menurut dia, pada sekolah menengah atas yang dilakukan perbandingan itu, buku yang wajib dibaca disediakan oleh pemerintah setempat di perpustakaan sekolah di mana setiap siswa memperoleh satu buku.
"Kemudian, buku tersebut dibaca hingga tamat dan ditulis kembali oleh siswa serta dilakukan ujian oleh guru," kata dia.
Ia mengatakan, yang menyedihkan, ternyata di Tanah Air tidak ada satu pun buku yang diwajibkan untuk dibaca dalam tiga tahun sehingga kemampuan menulis juga menjadi lemah.
Ia menceritakan, dahulu di zaman Hindia Belanda, pelajar di sekolah setingkat menengah atas di Indonesia diwajibkan membaca 25 buku dalam tiga tahun.
"Hasilnya lahir para tokoh pejuang dan pemimpin yang handal dan juga mahir menulis," kata dia.
Tetapi, setelah Indonesia merdeka, kebijakan itu dihapuskan karena pemerintah ingin lebih fokus membangun infrastruktur sehingga perhatian terhadap pelajaran bahasa dan sastra menjadi terabaikan.
"Bahkan yang memprihatinkan, terbentuk pandangan bahwa yang hebat itu adalah pelajaran eksakta sehingga pelajaran bahasa, sastra dan menulis dipandang kurang penting," katanya.
Akibatnya, kata Taufiq Ismail, sering dijumpai murid yang pintar matematika, fisika dan lainnya namun tidak bisa membuat karangan atau tulisan.
Oleh sebab itu, perlu ditanamkan kecintaan membaca buku dan menulis di bangku sekolah sejak dini.
"Semua upaya itu dapat terwujud jika pemerintah terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkomitmen memperbaiki pola pengajaran yang ada, dan lebih menekankan pelajar untuk membaca dan menulis," kata dia. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bupati Pasaman Barat lantik Doddy San Ismail sebagai sekda defenitif, Yulianto: Tingkatkan pengawasan dan koordinasi
03 September 2025 11:59 WIB
Camat klarifikasi dugaan dipersulitnya sumbangan sumber air di Tilatang Kamang Agam
05 August 2025 15:39 WIB
Menbud Fadli Zon resmikan Museum Sastra dan Rumah Puisi Taufiq Ismail
30 October 2024 14:48 WIB, 2024
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018