Padang, (Antara) - Kecamatan Siberut Selatan dan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium pada dua pekan terakhir. Barbarina Sapateddekat (23), salah seorang warga Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, ketika dihubungi dari Padang, Jumat, mengatakan, akibat sulitnya mendapatkan BBM, warga terpaksa jalan kaki dari pusat kecamatan hingga pelabuhan sejauh sekitar tujuh kilometer dalam melakukan aktivitas. "Sangat jarang kendaraan roda melintas di daerah kami karena sulit mendapat bensin. Kalau pun ada yang jual bensin eceran, harganya sampai mulai dari Rp12.000 hingga Rp15.000 per liter," katanya. Menurutnya, harga premium eceran sebelumnya dijual dengan harga Rp10.000, solar Rp15.000 ribu dan minyak tanah Rp6.000 per liter. Sementara, di Kecamatan Siberut Utara, kelangkaan BBM jenis premium sudah terjadi sejak sepekan lalu. Bambang Sagurung (27), warga Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, mengatakan, pasokan premiun di daerah tersebut juga kosong. "Tidak ada stok bensin di penjual eceran termasuk di tingkat agen, padahal warga rela membeli walau harganya tinggi," ujarnya. Ia menuturkan, diperkirakan pasokan minyak yang dibawa kapal Pertamina baru akan masuk ke daerah tersebut pada Sabtu (22/6) tergantung kondisi cuaca di perairan. "Kalau badai, bisa jadi tertunda lagi," tambah dia. Wakil Bupati Kepulauan Mentawai Rijel Samaloisa mengatakan, salah satu penyebabnya terjadinya kelangkaan ini karena jumlah pasokan BBM dari Pertamina masih minim. Kondisi tersebut dimanfaatkan oknum pedagang untuk mencari untung. "Kita sudah membicarakan dengan pihak Pertamina pada bulan tiga lalu untuk menambah jumlah kuota minyak ke Mentawai, namun belum duduk dari pihak Pertamina," ungkapnya. Marketing Branch Manger Pertamina Riau Sumbar, Freddy Anwar membantah tidak ada keterlambatan pasokan BBM ke Mentawai. "Semuanya sudah di suplai kesana dan itu adalah BBM bersubsidi. Memang tiga bulan lalu ada kelangkaan, tapi bulan ini tidak ada lagi," ujarnya. (*/wij)