PBB, (Antara/Reuters) - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa Senin mengutuk keras serangan-serangan bom mobil mematikan pada akhir pekan di Turki, dan mengatakan penting "untuk membawa pelaku, penyelenggara, pemodal dan sponsor dari tindakan-tindakan tercela terorisme ke pengadilan." Dua bom mobil mengoyak jalan perbelanjaan yang ramai di kota perbatasan Turki Reyhanli pada Sabtu, menewaskan 50 orang dan meningkatkan kekhawatiran bahwa perang saudara Suriah akan menyeret negara-negara tetangga, meskipun sudah ada langkah-langkah diplomatik baru untuk mengakhirinya. Ke-15 anggota Dewan Keamanan mendesak semua negara untuk bekerja sama dengan otoritas Turki untuk menyeret para pelaku ke pengadilan. Turki mengatakan telah menangkap sembilan orang, semua warga Turki dan termasuk tersangka dalang serangan itu. Turki, yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 pengungsi Suriah akibat konflik, menyalahkan pemboman pada satu kelompok yang memiliki hubungan langsung dengan Suriah. Namun Damaskus telah membantah terlibat dalam insiden itu. Dalam satu pernyataan, Dewan Keamanan mengatakan, "Setiap tindakan terorisme adalah kejahatan dan tidak dapat dibenarkan, terlepas dari apa motivasi mereka, dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun itu dilakukan." Satu perselisihan antara Rusia, sekutu dekat Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan Amerika Serikat atas bagaimana untuk mengakhiri perang Suriah selama dua tahun telah meninggalkan Dewan Keamanan lumpuh untuk bertindak. Rusia telah mempersenjatai dan mendukung Bashar, sementara Amerika Serikat dan Eropa telah mendukung oposisi dengan apa yang mereka katakan sebagai bantuan non-mematikan dan menyerukan agar Bashar mundur. Sementara Rusia dan China telah memveto tiga resolusi yang mengutuk pemerintah Bashar, Dewan Keamanan hanya sesekali mengutuk serangan kekerasan di Suriah. Dalam pernyataannya mengenai pemboman di Turki pada Senin, Dewan Keamanan secara berhati-hati menetapkan untuk tidak menyalahkan kedua sisi dalam konflik. Satu kelompok oposisi Suriah mengatakan jumlah korban dari dua tahun perang saudara itu telah meningkat menjadi sedikitnya 82.000 orang tewas dan 12.500 hilang. Lima juta orang telah meninggalkan rumah mereka, termasuk 1,4 juta mengungsi di negara-negara terdekat, kata PBB. (*/sun)