Hidup sehat kian diminati, sayur dan buah organik makin dicari
Jumat, 12 Juni 2020 11:29 WIB
Ilustrasi (Pixabay)
Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 mendorong masyarakat untuk mempraktikkan gaya hidup lebih sehat demi menjaga daya tahan tubuh menghadapi virus corona.
Perubahan pola pikir ini turut mempengaruhi minat masyarakat untuk mencari sumber makanan sehat, seperti sayur dan buah dari pertanian organik yang bebas pestisida, baik untuk kesehatan.
Maya Stolastika Boleng, pemilik Twelve’s Organic yang bekerjasama dengan petani-petani di Mojokerto, Jawa Timur mengatakan pesanan sayur dan buah organik dari pelanggannya semakin meningkat di tengah pandemi.
"Akhir Maret sudah nambah terus pesanan, enggak terdampak (pandemi). Hampir semua sektor pertanian organik naik," kata Maya kepada ANTARA beberapa waktu lalu.
Ketika bisnis restoran menjadi lesu karena dilarang beroperasi selama pembatasan sosial, Twelve’s Organic tak ikut kesulitan karena mereka memang fokus menjadi penyuplai konsumen rumah tangga sejak beberapa tahun belakangan.
"Kami pernah menyuplai ke market besar seperti restoran dan hotel, tapi sejak 2017 kami memutuskan ke end user, rumah tangga," ujar Maya, menambahkan konsumennya berasal dari Malang, Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya.
Aneka rimpang seperti kunyit, jahe dan bumbu dapur lainnya masih jadi incaran utama saat ini. Bahan-bahan untuk minuman herbal ini memang sedang banyak dicari untuk dijadikan empon-empon yang dianggap efektif mengusir virus.
Namun, sayur mayur dan buah-buahan juga tak kalah populer karena tak kalah menyehatkan. Ia menanam puluhan jenis sayur dan buah, mulai dari keluarga berry, sayuran hijau hingga herba.
"Permintaan raspberry naik tiga kali lipat sejak akhir Maret hingga sekarang," ungkap dia.
Maya memprediksi setelah pandemi berakhir, orang-orang akan lebih tertarik mengonsumsi hasil pertanian organik.
Ia berharap bisa mengembangkan sayap ke luar pulau Jawa bila proses logistik sudah tidak terkendala pembatasan sosial berskala besar.
Menurut Maya, sudah ada permintaan dari konsumen di Bali dan Kalimantan, tapi kendala logistik membuatnya kesulitan untuk mengirimkan produknya dalam waktu singkat agar tetap segar.
"Saat ini kami punya 170-175 pelanggan tetap, semoga akhir tahun kami bisa mencapai 300 rumah tangga," Maya optimistis.
Perubahan pola pikir ini turut mempengaruhi minat masyarakat untuk mencari sumber makanan sehat, seperti sayur dan buah dari pertanian organik yang bebas pestisida, baik untuk kesehatan.
Maya Stolastika Boleng, pemilik Twelve’s Organic yang bekerjasama dengan petani-petani di Mojokerto, Jawa Timur mengatakan pesanan sayur dan buah organik dari pelanggannya semakin meningkat di tengah pandemi.
"Akhir Maret sudah nambah terus pesanan, enggak terdampak (pandemi). Hampir semua sektor pertanian organik naik," kata Maya kepada ANTARA beberapa waktu lalu.
Ketika bisnis restoran menjadi lesu karena dilarang beroperasi selama pembatasan sosial, Twelve’s Organic tak ikut kesulitan karena mereka memang fokus menjadi penyuplai konsumen rumah tangga sejak beberapa tahun belakangan.
"Kami pernah menyuplai ke market besar seperti restoran dan hotel, tapi sejak 2017 kami memutuskan ke end user, rumah tangga," ujar Maya, menambahkan konsumennya berasal dari Malang, Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya.
Aneka rimpang seperti kunyit, jahe dan bumbu dapur lainnya masih jadi incaran utama saat ini. Bahan-bahan untuk minuman herbal ini memang sedang banyak dicari untuk dijadikan empon-empon yang dianggap efektif mengusir virus.
Namun, sayur mayur dan buah-buahan juga tak kalah populer karena tak kalah menyehatkan. Ia menanam puluhan jenis sayur dan buah, mulai dari keluarga berry, sayuran hijau hingga herba.
"Permintaan raspberry naik tiga kali lipat sejak akhir Maret hingga sekarang," ungkap dia.
Maya memprediksi setelah pandemi berakhir, orang-orang akan lebih tertarik mengonsumsi hasil pertanian organik.
Ia berharap bisa mengembangkan sayap ke luar pulau Jawa bila proses logistik sudah tidak terkendala pembatasan sosial berskala besar.
Menurut Maya, sudah ada permintaan dari konsumen di Bali dan Kalimantan, tapi kendala logistik membuatnya kesulitan untuk mengirimkan produknya dalam waktu singkat agar tetap segar.
"Saat ini kami punya 170-175 pelanggan tetap, semoga akhir tahun kami bisa mencapai 300 rumah tangga," Maya optimistis.
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa KKN reguler Unand I adakan sosialisasi teknologi pertanian tanaman aren di SMPN 1 Palambayan Agam
02 February 2026 14:39 WIB
Sawah masih menyusut, Menteri Nusron akan terapkan kebijakan darurat perlindungan lahan pertanian
29 January 2026 11:35 WIB
Penerapan teknologi budidaya dan hilirisasi padi dorong kemandirian petani di Nagari Aie Tajun
24 January 2026 12:05 WIB
Kerugian sektor pertanian akibat bencana alam di Pasaman Barat Rp3,94 miliar
11 December 2025 19:57 WIB
Terpopuler - Ragam
Lihat Juga
Jemaah Naqsyabandiyah Padang laksanakan shalat rarawih pertama Senin malam
16 February 2026 21:44 WIB
Macan tutul cakar pemuda dan bikin panik warga Maruyung Kabupaten Bandung
05 February 2026 12:36 WIB
Transformasi Bang Dodo (Ridho Riyansa) : Dari meja bankir jadi pionir edukasi digital Sumatra Barat
19 January 2026 19:01 WIB
Sudah optimal, operasi pencarian satu korban KM Putri Saknah di Labuan Bajo ditutup
09 January 2026 22:51 WIB
Masyarakat diimbau tidak terpengaruh info tak valid terkait air di lubang sinkhole
09 January 2026 20:39 WIB