Damaskus, (Antara/Xinhua-OANA) - Sebelumnya sebagian besar wilayah Ibu Kota Suriah, Damaskus, masih tak terjamah dampak krisis dua tahun, tapi lonjakan tembakan mortir baru-baru ini oleh gerilyawan telah membuat warga Damaskus ketakutan. Warga di ibu kota Suriah itu dilanda rasa was-was bahwa kota tempat tinggal mereka mungkin segera tenggelam dalam kerusuhan, yang sudah menerpa daerah pinggiran. Krisis Suriah telah memasuki tahun ketiganya sementara tak ada tanda penyelesaian, saat kedua pihak dalam konflik tersebut tak memperlihatkan tanda akan mengalah dan masyarakat internasional menghadapi kerumitan lagi mengenai masalah itu. Pemerintah Suriah menyatakan siap berdialog tanpa syarat dengan kelompok oposisi, tapi oposisi malah menetapkan kepergian Presiden Bashar al-Assad sebagai syarat bagi pembicaraan mengenai pemerintah peralihan. Pemerintah menerbitkan laporan setiap hari mengenai serangan mereka terhadap kubu "kelompok teror", sementara gerilyawan melancarkan taktik perang gerilya dan menggunakan senjata yang diselundupkan dari luar atau yang mereka rebut dari militer. Gerilyawan telah meningkatkan serangan mortir terhadap berbagai lembaga pemerintah, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang. Namun, semua peluru mortir itu jarang mencapai sasaran dan malah mendarat di tanah bangunan permukiman, sehingga merenggut korban jiwa dan menyebar kepanikan. Rata-rata delapan mortir per hari menghantam beberapa bagian Damaskus, terutama Bundaraan Umayyah, tempat gedung TV resmi dan Markas Kepala Komando Angkatan Darat berada dan daerah Al-Qusour, yang berada dalam jarak tembak gerilyawan dari pinggiran timur Damaskus, Jobar. Pada Senin (25/3), dua mortir mendatang di Bundaran Umayyah dan Jalan Al-Mihdi Bin Baraka --yang bersebelahan. Satu orang tewas dan beberapa orang lagi cedera akibat serangan tersebut, kata bebreapa saksi mata kepada Xinhua. Satu peluru mortir lagi meledak pada Senin di udara sebelummendarat di Kabupaten Al-Mazzeh tapi pecahannya melukai seorang perempuan dan putranya. Sehari sebelumnya, tujuh orang cedera ketika enam mortir menghantam daerah di sekitar Bundaran Umayyah di dekat markas stasiun TV resmi dan gedung Kepala Staf Angkatan Darat. "Menakutkan. Saya takkan mengizinkan anak saya pergi ke sekolah lagi, dan ya tak mau bekerja lagi ... Saya bahkan tidak berani keluar rumah," kata Aya Adnan, ibu dua anak yang berusia 45 tahun, kepada Xinhua. Kinana, ibu tiga anak, memberitahu Xinhua daerahnya masih relatif tenang. "Kami, seperti warga lain Damaskus, telah terbiasa dengan suara pemboman. Tapi apa yang belakangan ini telah menjadi keprihatinan ialah peluru mortir yang secara membabi-buta ditembakkan oleh pria bersenjata serta peledak rakitan yang mereka pasang di bawah mobil," ia menjelaskan. "Mereka mulai mendekati daerah kami," katanya. "Apa yang akan terjadi ketika mereka memiliki senjata canggih? ... Maka kami akan berada di dalam jarak tembak mereka." (*/sun)