Pertamina Dinilai Belum Siap Kelola Blok Mahakam
Senin, 18 Februari 2013 16:18 WIB
Jakarta, (Antara) - Mantan Dirut PT Pertamina (Persero) Ari Hernanto Soemarno berpendapat kemampuan teknologi dan manajemen Pertamina saat ini belum siap untuk mengelola secara penuh Blok migas Mahakam di Kalimantan Timur yang berakhir masa kontraknya pada 2017.
"Sebaiknya lapangan minyak dan gas itu dikelola secara bersama (joint operation) dahulu antara Pertamina dengan kontraktor Blok Mahakam Total EP Indonesie atau pihak lain yang juga mempunyai kemampuan setara dengan Total," kata Ari di Jakarta, Senin.
Pengelolaan bersama itu, lanjut Ari bisa dilakukan Pertamina dengan Total atau pihak lain selama 5-10 tahun. Baru kemudian dikelola secara penuh oleh Pertamina.
Menurut Ari, kendala utama Pertamina saat ini untuk mengelola lapangan migas bukan pendanaan. "Kalau dari pendanaan saya yakin tidak ada masalah dan mudah diperoleh karena cadangan minyak blok Mahakam sudah terbukti (proven)," katanya.
Namun kelemahan Pertamina adalah teknologi dan manajemen pengelolaan lapangan termasuk soal logistik yang masih kurang, ungkap Dirut Pertamina 2006-2009.
Ia melanjutkan struktur geologis Blok Mahakam mempunyai keunikan tersendiri yang butuh penanganan secara profesional.
"Yang saya ketahui lapisan batuan di struktur Mahakam tipis tetapi bentuknya lebar sehingga saat melakukan pemboran harus dengan teknik bor tertentu. Kalau salah strategi bisa rusak reservoirnya," katanya.
Ari juga mengingatkan bahwa pemerintah tidak bisa begitu saja mengambilalih Blok Mahakam apalagi cadangan migasnya sudah terbukti. Pemerintah harus memberikan kompensasi dana kepada pihak Total dan Inpex sesuai dengan prinsip bagi hasil dari KKS migas.
"Setelah itu baru pemerintah bisa menjual atau memberikannya kontraktor lain termasuk kepada Pertamina. Ini yang berlaku di bisnis migas internasional," katanya.
Blok Mahakam saat ini ditangani oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas Total EP Indonesie (Perancis) dan Inpex Jepang. Produksi minyak bumi dari lapangan tersebut sebesar 65.204 barel per hari dan gas bumi sebesar 1.708,59 MMSCFD.
Kontrak bagi hasil blok Mahakam ditandatangani tahun 1967, kemudian diperpanjang pada tahun 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai tahun 2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada tahun 1967 menemukan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam tahun 1972 dalam jumlah yang cukup besar.
Cadangan terbukti dan potensial atau dikenal dengan istilah 2P awal yang ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF).
Satuan Kerja Khusus Migas (SKK MIGAS) mencatat bahwa setelah pengurasan selama 40 tahun, sisa cadangan minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan gas sebesar 5,7 TCF.
Pemerintah hingga saat ini belum memberikan keputusan final mengenai pengelolaan WK Mahakam yang akan berakhir masa kontraknya tahun 2017. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Masuk nominasi Kota Sehat "Swasti Saba Wistara" Nasional 2025, Kota Padang dinilai tim pusat
18 September 2025 19:42 WIB
Kelurahan Tanah Pak Lambik Padang Panjang dinilai tim penilai kelurahan berprestasi Sumbar
19 June 2025 19:28 WIB
Pemkot Pariaman ganti uang transportasi dasawisma karena dinilai bantu pemerintah
18 June 2025 14:55 WIB