Pariaman, (Antara) - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Penyu Kota Pariaman, Sumatera Barat, mencatat sebanyak empat ekor penyu ditemukan mati di sekitar perairan kota itu sejak 2009.


Kepala UPT Konservasi Penyu setempat, Citrha Aditur Bahri, di Pariaman, Jumat, menyebutkan empat ekor penyu yang mati tersebut ditemukan di lokasi berbeda.


"Pada 2012 dan 2013 masyarakat menemukan penyu mati di sekitar Pulau Angso Duo dan Pulau Kasiak yang diperkirakan sudah berusia lima hingga 10 tahun, dan kemudian dilaporkan kepada pihak UPT setempat," kata dia.

Dijelaskanya, khusus penyu mati yang ditemukan di sekitar Pulau Angso Duo dalam keadaan sudah membusuk diduga kuat bekas dianiaya oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Sedangkan penyu mati yang ditemukan di sekitar Pulau Kasiak, diduga kuat hewan yang dilindungi Undang-Undang tersebut mati karena terlilit di jaring nelayan sehingga kehabisan oksigen.

"Bangkai penyu mati di Pulau Angso Duo sangat memprihatinkan sekali, sampai saat ini kita belum mengetahui siapa yang begitu tega membunuh hewan langka tersebut," katanya.

Kasus kematian penyu kembali terjadi pada 2014 dengan jenis lekang yang diperkirakan sudah berumur 5 hingga 10 tahun yang ditemukan di sekitar perairan kota itu.

Terakhir pihaknya mencatat kematian penyu pada Rabu (24/2) jenis lekang yang sudah berumur satu hingga dua tahun dan berdiameter mencapai kurang lebih 25 centimeter.

Dikatakannya, dari hasil pemerikasaan pihak Puskesmas hewan (Puskeswan) setempat, diduga kuat kematian hewan tersebut karena sakit.

Selain itu dari hasil pemeriksaan juga terdapat parasit yang menempel di rongga mulut penyu yang diduga kuat penyebab kematian hewan itu.

"Dalam satu bulan terakhir kita memang sudah melihat hewan itu mulai mengalami perubahan seperti nafsu makan yang jauh menurun," ujarnya.

Melihat kondisi seperti itu Citrha bersama rekan-rekan di UPT memberikan vitamin dan melaporkan ke puskeswan setempat.

Ke depan ia berharap akan ada penanganan penyu sakit secara medis untuk tahap yang lebih intensif dan maksimal agar tidak ada lagi penyu yang mati.

Sementara itu Tomi Syamsuar (36) salah seorang anggota komunitas Tabuik Diving Club (TDC) menyebutkan berdasarkan hasil pantauan bawah laut di sekitar Pulau Kasiak banyak ditemukan sampah.

"Untuk monitoring alam bawah laut kami cukup rutin mengadakan pembersihan sampah karena hal itu bisa merusak terumbu karang dan juga bisa dimakan oleh penyu sehingga berakibat fatal," ujarnya.


Ia menyebutkan beberapa tahun terakhir pengakuan masyarakat sekitar sempat menghebohkan para komunitas selam tersebut karena ada oknum nelayan yang sengaja menangkap penyu dan membedahnya untuk diambil telurnya.

"Pengakuan itu kita peroleh dari masyarakat sekitar yang diperkuat ditemukanya bangkai penyu dalam keadaan hancur sekitar 2012-2013," kata penyelam bersertifikat A1 itu.

Pihaknya berharap ke depan selain komunitas TDC yang selalu aktif membersihkan alam bawah laut, peran pemerintah juga harus maksimal agar ekosistem bawah laut bisa terlestarikan. (*)