Garissa, (Antara/Xinhua-OANA) - Pemerintah Kenya akan segera menerapkan "tindakan ketat" untuk membatasi gerakan pengungsi masuk dan keluar Kamp Dadaab, kata seorang pejabat pada Kamis (11/6), dengan alasan gerilyawan Ash-Shabaab mendapat bantuan dari orang kamp.


        Koordinator Wilayah Timur-laut Mohamud Saleh mengatakan sebagian pengungsi membantu gerilyawan Ash-Shabaab --yang berasal dari Somalia-- dengan memberi mereka makanan, obat dan bahkan mengangkut senjata, biasanya dengan menggunakan kereta keledai.


        "Dalam operasi kami belum lama ini di Yumbis, personel keamanan mencegat 25 kereta keledai milik pengungsi. Yang mengejutkan kami, pemiliknya melarikan diri ketika mereka dihentikan. Ini adalah petunjuk jelas bahwa pemiliknya tak memiliki i'tikad baik," kataSaleh kepada wartawan di Kota Kecil Garissa, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi.


        Saleh mengatakan sebagian orang di Kamp Dadaab terlibat dalam bisnis gelap dengan nilai jutaan dolar AS dengan kerabat mereka di Somalia.


        "Orang-orang ini tak memenuhi syarat untuk menjadi pengungsi. Kami mesti memastikan bahwa kamp tersebut hanya menerima orang yang memenuhi standard internasional untuk diberi suaka," katanya.


        Pejabat tersebut mengatakan ia akan bertemu dengan pemimpim masasyarakat penampung, Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) dan departemen urusan pengungsi di Dadaab untuk mencapai penyelesaian langgeng bagi "masalah keamanan yang diciptakan oleh pengungsi".


        Dadaab, yang menampung sebanyak 350.000 orang Somalia, adalah kamp pengungsi terbesa di dunia.


        Pemerintah Kenya pada April meminta UNHCR menutup kamp tersebut dalam waktu 90 hari, setelah hampir 150 mahasiswa di Garissa tewas oleh anggota Ash-Shabaab yang bersenjata pada awal bulan itu.


        Saleh menambahkan sebagian pengungsi juga terlibat dalam perburuan gelap satwa liar dan perdagangan gelap yang berkaitan dengan satwa.


        "Semua masalah ini disebabkan oleh kebebasan bergerak para pengungsi. Itu harus dihentikan," katanya.


        Hanya pengungsi yang ingin memperoleh perawatan medis khusus dan pelajar yang akan mengikuti ujian masuk universitas akan diberi izin untuk meninggalkan kamp pengungsi tersebut, kata pejabat itu. (*)