Jakarta, (Antara) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan produksi komoditas udang di Indonesia pada tahun 2015 bakal naik 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya sehingga bakal lebih besar berkontribusi dalam perekonomian nasional serta regional.
"Dengan melihat potensi lahan dan potensi pengembangan serta teknologi yang sudah kita miliki, produksi udang nasional tahun 2015 ditargetkan sebesar 785.900 ton, atau meningkat sekitar 32 persen dari produksi udang tahun 2014," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.
Slamet Soebjakto mengingatkan bahwa dalam kurun lima tahun terakhir, produksi udang nasional meningkat cukup signifikan yaitu 13,9 persen per tahun.
Dia mengemukakan sesuai arahan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, pihaknya fokus pada pemanfaatan lahan-lahan tambak idle atau revitalisasi lahan yang sudah ada.
"Kita kembangkan budidaya udang tanpa merusak lingkungan, seperti mengurangi atau menggeser keberadaan mangrove yang sudah ada di sepanjang pantai," katanya.
Bahkan, ujar dia, KKP mendorong petambak untuk menanam mangrove atau bakau sebagai penjaga kelestarian lingkungan di sekitar tambak.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, tumbuhnya perekonomian sektor perikanan pada kuartal I-2015 karena semakin meningkatnya produksi serta pelaku usaha yang berkecimpung dalam bidang budidaya perikanan.
"Perikanan mengalami pertumbuhan paling tinggi karena didorong oleh kenaikan produksi perikanan budidaya," kata Suryamin di kantor KKP, Jakarta, Senin (18/5).
Suryamin memaparkan, kenaikan sejumlah komoditas dalam perikanan budidaya antara lain adalah termasuk rumput laut serta udang yang merupakan dampak dari revitalisasi tambak udang di sepanjang pantai Jawa Barat dan Banten.
Selain itu, lanjutnya, faktor lainnya juga antara lain karena adanya pemanfaatan lahan budidaya dengan metode super intensif di sejumlah daerah di sulawesi.
Sebagaimana dilaporkan data BPS, pertumbuhan sektor perikanan kuartal I-2015 dibandingkan tahun sebelumnya untuk perikanan adalah sebesar 8,64 persen, berbeda dengan pertanian 2,94 persen dan kehutanan 1,24 persen.
Namun, masih berdasarkan data BPS, pertumbuhan kuartal I-2015 mengalami penurunan atau minus 2,81 persen antara lain karena faktor cuaca buruk pada beberapa bulan terakhir yang mengakibatkan nelayan di berbagai daerah enggan melaut.
Selain itu, data BPS juga mengungkapkan bahwa jumlah rumah tangga yang berusaha di bidang perikanan budidaya meningkat dari 985 ribu pada 2003 menjadi 1,2 juta pada 2013.
Padahal pada kurun yang sama, jumlah rumah tangga yang berusaha di bidang perikanan tangkap atau nelayan menurun sekitar separuhnya dari 1,6 juta pada 2003 menjadi 864 ribu pada 2013
Berdasarkan data statistik perikanan budidaya KKP tahun 2010-2014, produksi perikanan budidaya telah mengalami peningkatan sekitar 23 persen per tahun dengan komoditas yang mengalami peningkatan di atas 20 persen per tahun adalah rumput laut (27 persen), udang vaname (20 persen), patin (25 persen) dan lele (26 persen).
"Dari data statistik tersebut, khususnya lele dan patin merupakan komoditas budidaya air tawar yang mendukung ketahanan pangan dan juga mendorong pengembangan budidaya perikanan pedesaan. Ini juga merupakan bagian dari pengembangan perikanan budidaya di kawasan Asia Pasifik," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto. (*)