Bangui, Republik Afrika Tengah, (ANTARA/AFP) - Pasukan Chad memasuki Republik Afrika Tengah (CAR) Selasa memenuhi permintaan Presiden Bangui Francois Bozize setelah pemberontak merebut sejumlah kota penting, kata seorang pejabat militer CAR. Satu koalisi tiga faksi pemberontak mengancam akan menggulingkan pemerintah Bozize, menuntut dihormati beberapa perjanjian perdamaian yang ditandatangani antara tahun 2007 dan 2011. Satuan-satuan bersenjata berat angatan darat Chad dalam 20 kendaraan tiba Selasa siang di Kaga Bandoro di mana mereka bergabung dengan satuan-satuan angkatan bersenjata Republik Afrika Tengah itu," kata pejabat CAR itu kepda AFP. Intervensi itu dilakukan setelah pemberontak merebut kota garnisun Bria tempat tambang berlian, 400km timur laut ibu kota Bangui. Presiden Chad Idriss Deby Itno adalah sekutu dekat Bozize yang membantu dia ketika perwira penting angkatan darat itu merebut kekuasaan tahun 2003. Pasukan Chad, yang berhasil menumpas pemberontakan di daerah timur negara mereka sendiri, telah dikirim ke CAR November 2010 untuk menumpas pemberontak Konvensi Patriot bagi Keadilan dan Pedamaian (CPJP) dari kota Birao di timur laut. Pejabat militer itu mengatakan pasukan Chad itu akan "mendukung pasukan CAR dalam serangan balasan yang bertujuan merebut kembali kota-kota yang jatuh ke tangan pemberontak". Bozize diperkirakan berada di Kaga Bandoro Selasa malam sebelum pasukan sekutu itu menuju "daerah-daerah yang diduduki", tambahnya. Satu koalisi faksi-faksi pemberontak yang beropeasi dengan nama Seleka CPSK-CPJP-UFDR Selasa pagi merebut Bria mengusir pasukan pemerintah yang tidak memiliki peralatan yang buruk, tidak teroganisasi dan tidak digaji dan mulai menjarah toko-toko. Serangan itu dilakukan delapan hari setelah kelompok UFDR menyerang kota-kota Ndele, Sam Ouandja dan Ouadda. Akibat serangan-serangan ini dan kondisi angkatan bersenjata yang lemah memicu Bozize meminta bantuan dari luar. Seleka, satu Aliansi koalisi tiga kelompok pemberontak menuntut agar sejumlah perjanjian perdamaian yang ditandatangani antara tahun 2007 dan 2011 yang mengatur perlucutan senjata para petempur dan mengintegrasikan mereka dalam masyarakat dihormati. Dalam satu pernyataan yang dikirim ke AFP Senin, Seleka mengatakan bahwa jika pemerintah Bozize tidak setuju membicarakan tuntutan-tuntutan mereka, pemberotnak akan melakulan segala cara "untuk mengubah cepat atau lambat pemerintah ini". Serangan-serangan pemberontak di utara negara itu dalam hari-hari belakangan ini menewaskan paling tidak 14 tentara. Dalam serangan Selasa di Bria pembrontak "memasuki kota itu dan mulai menjarah toko-toko", kata seorang pejabat senior militer yang tidak bersedia namanya disebutkan kepada AFP, dan menambahkan sejumlah penduduk lokal memanfaatkan situasi itu dan ikut menjarah. Angkatan bersenjata CAR "melepaskan tembakan ke pemberontak yang berusaha masuk, tetapi pasukan itu kemudian terpaksa mundur", kata pejabat tersebut. Seorang pejabat militer lainnya sebelumnya mengatakan tentara dj pangkalan militer Bria "telah berusaha melawan tetapi kemudian banyak yang mundur dan pangkalan mereka jatuh ketangan para penyerang". Bria adalah kota penting di negara yang miskin dan tidak memiliki pelabuhan laut dan daerah tambang berlian. Menurut data pemerintah Bria berpeduduk 30.000 jiwa itu menghasilkan 10 sampai 15 persen dari 65 juta dolar AS dalam produksi CAR setiap tahun. Jatuhnya Bria terjadi setelah serangkaian serangan terhadap empat kota di utara dan tengah negara itu, yang dilanda pemberontakan dan kudeta-kudeta selema lebih dari 30 tahun. Pasukan pemberontak bergerak sejauh sekitar 300km untuk merebut Bria setelah Ahad mengklaim menguasai kota Ndele , yang terletak dekat perbatasan Chad di rute perdagangan penting antara Kamerun dan Sudan. Pada Senin, militer mengatakan pihaknya kehilangan kontak dengan 40 tentara yang diserang dekat Ndele. Koalisi Seleka dibentuk Agustus lalu oleh faksi-faksi pembankang dari dua kelompok pemberontak yang menandatangani perjanjian-perjanjian perdamaian dengan pemerintah, bersama dengan kelompok ketiga yang tidak menandatangani perjanjian perdamaian dengan Bangui. Presiden Bozize dua kali tahun 2005 dan 2011--sejak merebut kekuasaan.Ia menghadapi masalah dalam mengonsolidasikan kekuasaannya atas negara itu. (*/sun)