PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Dewan Keamanan (DK) PBB pada Ahad (14/9) mengutuk "dengan sekeras-kerasnya" serangan terhadap satu kendaraan militer PBB di Mali, sehingga menewaskan seorang prajurit pemelihara perdamaian PBB dan melukai empat orang lagi. "Anggota Dewan Keamanan kembali menyampaikan dukungan penuh mereka buat MINUSMA (Misi Pemelihara Kestabilan Terpadu Multi-Dimensi PBB di Mali) dan pasukan Prancis yang mendukungnya," kata Badan PBB dengan 15 anggota tersebut di dalam satu pernyataan yang dikeluarkan kepada pers di Markas PBB, New York. "Anggota Dewan Keamanan menyeru pemerintah Mali agar secepatnya menyelidiki serangan ini dan menyeret para pelakunya ke pengadilan dan menekankan bahwa mereka yang bertanggung-jawab atas serangan itu mesti dimintai pertanggung-jawaban," kata pernyataan tersebut, sebagaimana diberitakan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin siang. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon juga mengutuk serangan itu, yang berlangsung pada Ahad pagi di sekitar Aguelhok, Wilayah Kidal, di negara Afrika Barat tersebut. Peristiwa itu terjadi setelah satu serangan lain pada 2 September terhadap satu jalan di sebelah utara Kidal di Mali Utara. Empat prajurit PBB dari Chad tewas dan 15 personel lagi cedera, termasuk enam yang terluka serius. "Anggota Dewan Keamanan kembali menegaskan perlunya untuk memerangi dengan segara cara, sejalan dengan Piagam PBB, ancaman terhadap keamanan dan perdamaian internasional yang ditimbulkan oleh aksi teror, dan setiap tindakan teror adalah kejahatan dan tak bisa dibenarkan, tak peduli apa pun motivasinya, di mana pun serta kapan pun terjadinya dan siapa pun pelakunya," katanya. "Anggota Dewan Keamanan mengingatkan semua Negara bahwa mereka harus menjamin tindakan yang dilakukan untuk memerangsi aksi teror mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, terutama hak asasi manusia internasional, hukum pengungsi dan kemanusiaan," kata pernyataan tersebut. Dewan Keamanan kembali menyampaikan dukungan mereka bagi MINUSMA agar membantu Pemerintah Mali dan rakyat Mali dalam upaya mereka mewujudkan kestabilan dan perdamaian yang langgeng bagi negara mereka, sebagaimana dimandatkan oleh resolusi Dewan Keamanan yang disahkan pada awal tahun ini, kata pernyataan itu. Tugas inti MINUSMA ialah mendukung proses politik di Mali, melalui kerja sana erat dengan Uni Afrika dan ECOWAS. Sejak kudeta militer terjadi di Mali pada Maret 2012, wilayah utaranya telah menjadi kubu gerilyawan. Situasi keamanan di wilayah tersebut bertambah buruk setelah kunjungan Perdana Menteri Mali ke Kota idal di bagian utara negeri itu pada Mei, sehingga memicu konflik antara Angkatan Bersenjata lokal dan militer pusat. Mali saat ini berada dalam proses pemulihan demokrasi dengan bantuan PBB dan badan regional Afrika, termasuk Uni Afrika dan Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS). Pada 25 April 2013, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulan mensahkan satu resolusi untuk menyetujui MINUSMA, yang memiliki 12.600 personel, mengambil-alih misi pimpinan Afrika di Mali pada 1 Juli 2013, dan mensahkan personel Baret Biru "menggunakan segala cara yang perlu" untuk melaksanakan tugas menjaga kestabilan yang berkaitan dengan keamanan, melindungi warga sipil staf PBB dan benda budaya, serta memfasilitasi bantuan kemanusiaan. (*/sun)