Ban Kecam Pembunuhan Prajurit Perdamaian PBB di Mali
Selasa, 1 Juli 2014 13:48 WIB
PBB, (Antara/Xinhua-OANA) - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada Senin (30/6) dengan keras mengutuk pembunuhan seorang prajurit pemelihara perdamaian PBB di Mali.
Ban mengatakan kejahatan itu "takkan menghapus tekad PBB untuk mendukung rakyat Mali dalam upaya mewujudkan perdamaian yang langgeng dan kestabilan di negeri mereka".
"Sekretaris Jenderal dengan keras mengutuk ledakan bom rakitan (IED) hari ini, 30 kilometer di sebelah barat Timbuktu di Mali, sehingga menewaskan seorang prajurit pemelihara perdamaian dari Burkina Faso dan melukai enam lagi personel helm biru," kata satu pernyataan yang dikeluarkan di Markas PBB oleh juru bicara Ban.
Prajurit pemelihara perdamaian PBB tersebut tewas dan enam lagi cedera di Mali pada Senin pagi, ketika kendaraan mereka melindas ranjau darat di bagian utara negara Afrika Barat itu, kata beberapa laporan.
"Kejahatan ini, yang dilakukan terhadap personel PBB saat mereka melaksanakan mandat mereka, takkan menghilangkan tekad PBB untuk mendukung rakyat Mali dalam upaya mereka mewujudkan perdamaian yang langgeng dan kestabilan ke negara meeka sebagaimana dimandatkan oleh Dewan Keamanan dalam Resolusi 2164 (2014)," kata pernyataan itu.
Sekretaris Jenderal menyampaikan belasungkawanya yang paling dalam kepada keluarga korban dan pemerintah serta rakyat Burkina Faso, kata pernyataan tersebut. "Ia mendoakan kesembuhan cepat dan sepenuhnya prajurit yang cedera."
Serangan pada Senin adalah yang kedua pada Juni terhadap Misi Stabilisasi Terpadu Banyak Dimensi PBB di Mali (MINUSMA).
Pada 11 Juni, satu kamp MINUSMA di Aguelhok diserang dengan menggunakan bom mobil, sehingga menewaskan empat prajurit pemelihara perdamaian PBB dari Chad dan melukai enam lagi personel helm biru.
Pada 14 Desember 2013, dua prajurit pemelihara perdamaian PBB dari Senegal tewas dalam satu ledakan bom mobil di Kota Kecil Kidal, Mali Timurlaut, kubu gerilyawan separatis Tuareg.
Mali telah menyaksikan kudeta militer, pertempuran yang berkecamuk lagi antara pasukan pemerintah dan gerilyawan Tuareg, dan direbutnya wilayah utaranya oleh gerilyawan fanatik sejak awal 2012.
Negara Afrika Barat sekarang dalam proses pemulihan demokrasi dengan bantuan PBB dan lembaga regional Afrika, termasuk Uni Afrika dan Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS).
Pada 25 April, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mensahkan resolusi untuk menyetujui MINUSMA dengan 12.600 prajurit untuk mengambil-alih tanggung jawab dari misi pimpinan Afrika di Mali pada 1 Juli. Resolusi itu juga mensahkan penggelaran personel helm biru "untuk memikul tugas stabilisasi yang berkaitan dengan keamanan, melindungi warga sipil, staf PBB dan artifak budaya, dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan".
Tugas inti MINUSMA ialah mendukung proses politik di Mali, melalui kerja sama erat dengan Uni Afrika dan ECOWAS, kata resolusi itu. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Komisi IX DPR kecam kasus kekerasan seksual dokter PPDS Unpad di RSHS Bandung
10 April 2025 13:20 WIB
Palestina kecam Israel atas pemindahan paksa pasien ke RS Indonesia
29 December 2024 13:06 WIB, 2024
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018