Polisi: Wartawan Filipina Terbunuh
Selasa, 10 Juni 2014 6:40 WIB
Manila, (Antara/AFP) - Seorang penyiar radio tewas ditembak di Filipina, Senin, kata polisi, yang mengatakan ia wartawan ketiga dalam sebulan tewas di negeri paling berbahaya bagi pekerja media itu.
Seorang pria bersenjata bersepeda motor menembak Nilo Baculo, 67, dari jarak dekat di luar rumahnya di kota kecil Calapan, Filipina tengah, kata kepala kepolisian setempat, Inspektur Glicerio Cansilao.
"Kami tengah menyelidiki apakah itu berhubungan dengan pekerjaannya, meskipun saat ini kami belum bisa memastikannya," kata Cansilao kepada AFP.
Ia mengatakan Baculo bekerja sebagai komentator dan pembaca berita untuk radio DWIM sebelum radio itu ditutup pada tahun lalu.
Pembunuhan Baculo terjadi setelah seorang penyiar radio lain tewas ditembak di kota Davao, Filipina selatan, pada 23 Mei. Dua pekan sebelumnya, seorang penyiar radio juga tewas ditembak di Filipina selatan.
Filipina adalah negara ketiga paling berbahaya di dunia bagi pekerja media, setelah Suriah dan Irak, kata Komite Perlindungan Wartawan, yang berpusat di New York.
Filipina juga sangat berbahaya karena yang digambarkan sebagai "budaya kebal hukum", tempat tokoh kuat, seperti, politisi atau pengusaha, dapat mengatur pembunuhan wartawan atau pengecam lain tanpa takut ditangkap.
Para tokoh itu dapat mengandalkan polisi dan politisi korup serta sistem peradilan tercemar penyuapan guna memastikan bahwa mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban.
Empat wartawan tewas pada tahun ini dan 33 sejak Presiden Benigno Aquino berkuasa pada 2010, kata Persatuan Wartawan Nasional Filipina.
Aquino dan pembantunya berulang kali berjanji menghentikan pembunuhan semacam itu dan melacak pembunuhnya, tetapi persatuan itu dan kelompok wartawan lain mengatakan kepala negara itu hanya melakukan sedikit untuk mengubah budaya tersebut.
"Kami berharap banyak dari pemerintah ini dan kami telah berulang kali dikecewakan," kata direktur persatuan wartawan nasional Nestor Burgos kepada AFP.
Dalam serangan paling mematikan berhubungan dengan politik dan media dalam sejarah Filipina, 32 wartawan termasuk di antara 58 orang tewas di propinsi selatan, Maguindanao, pada November 2009.
Pemimpin keluarga politik setempat dituduh mengatur pembantaian itu dan diadili. Meski demikian, proses peradilannya diperkirakan berjalan bertahun-tahun dan para saksi kuncinya telah dibunuh. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dari silaturahmi Ketum PWI Pusat dengan PWI Sumbar, wartawan perlu kuasai jurnalisme bencana
23 December 2025 6:58 WIB
Balai Wartawan Agam salurkan bantuan ke korban terdampak bencana hidrometeorologi
15 December 2025 18:27 WIB
Untuk pertama kalinya, uji kompetensi wartawan, digelar di Limapuluh Kota
13 December 2025 19:55 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018