Rabu, 20 September 2017 - 29 Zulhijjah 1438 H

Mensos: Hedonisme-Konsumerisme Pengaruhi Gaya Hidup Mahasiswa

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Kendari, (Antara Sumbar) - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan saat ini hedonisme dan konsumerisme merambah dan memengaruhi gaya hidup sebagian kalangan mahasiswa.

"Inilah yang membuat sebagian mahasiswa di negeri ini kurang progresif, tidak kritis, bahkan ada yang tidak memiliki orientasi jelas, tidak memiliki kepedulian sosial, dan lain sebagainya," kata Khofifah di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat.

Tampil memberikan kuliah umum bertema "Urgensi Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Menanggulangi Masalah-Masalah Sosial" di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Khofifah mengkritisi "civitas academica" yang apatis dan apolitis.

"Kebanyakan 'civitas academica' utamanya mahasiswa mengambil jarak dengan partai politik, kurang peduli dengan kondisi kekinian bangsa, dan eksklusif," ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa dan dosen peserta kuliah umum itu.

Padahal, kata dia, sebagai aktor penyambung (linkage actor) yang memiliki energi besar, mahasiswa harus mampu mengagregasi kepentingan rakyat.

Khofifah mengajak mahasiswa selain menuntut ilmu dan mendapatkan prestasi akademik setinggi-tingginya juga memiliki peran yang signifikan dalam membangun bangsa ini.

Khofifah mengatakan mahasiswa bisa ikut membantu pemerintah, antara lain melalui program desa mandiri sejahtera, kerja sama yang dilakukan Kemensos dengan perguruan tinggi yang diimplementasikan saat mahasiswa melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN).

Dalam program ini mahasiswa melakukan berbagai program kegiatan untuk mengatasi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, termasuk menyisir warga miskin di lokasi KKN.

"Dengan demikian tidak ada masyarakat miskin yang tercecer yang tidak memperoleh bantuan sosial sebagaimana amanat Nawacita," kata Khofifah.

Khofifah menambahkan desa menjadi sasaran utama karena angka kemiskinan di desa dua kali lipat lebih tinggi daripada di kota. Aksesibilitas terhadap layanan publik pun sangat minim.

"Persentase penduduk miskin di desa mencapai 13,96 persen, sementara di kota hanya 7,73 persen. Artinya jumlah penduduk miskin di desa dua kali lipat lebih banyak," kata dia. (*)



Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Riko Syaputra
Lubuk Sikaping, (Antara Sumbar) - Petugas Rumah Tahanan kelas II B Lubuk Sikaping kembali kecolongan setelah satu warga binaannya ...
Baca Juga