Kota Padang (ANTARA) - Para pekerja PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tampak telah siap dengan seragam kerja masing-masing pagi itu. Mulai dari mengenakan alat pelindung diri (APD) berupa helm, face shield, masker, sarung tangan hingga sepatu pelindung tahan panas atau heat resistant safety boats.
Meskipun gerimis tipis menyelimuti langit Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, tak sedikitpun menyurutkan semangat mereka. Para pekerja dengan cekatan mengolah alumina di pabrik reduksi yang berada di smelter PT Inalum Kabupaten Kuala Tanjung.
Tangan-tangan terampil itu mulai memproses aluminium cair yang berada di dalam ratusan tungku dengan suhu kira-kira mencapai 900 derajat celsius. Sesekali terlihat di antara para pekerja mengusap keringat dengan berbekal handuk kecil yang sengaja dililitkan di belakang leher.
Berbekal sebuah alat berbentuk sendok besar, pekerja mengaduk setiap sudut tungku berwarna merah menyala itu. Ketelitian dan kehati-hatian serta menjalankan setiap standar operasional prosedur yang ditetapkan perusahaan, menjadi kunci penting untuk keselamatan bekerja sekaligus demi mendapatkan aluminium berkualitas serta siap ekspor ke berbagai negara di dunia.
Tak jauh dari pabrik reduksi, sejumlah kendaraan seperti forklif hingga metal transport car berukuran besar terlihat hilir mudik membawa bahan aku aluminium untuk proses pencetakan. Aluminium cair yang dimasak tadi secara bertahap dituangkan ke sebuah wadah untuk melalui proses pencetakan.
Setelah melalui seluruh tahapan, perusahaan yang didirikan pada 1976 tersebut menghasilkan tiga produk akhir yakni Ingot, Alloy dan Billet. Secara bertahap logam ringan ini diangkut menggunakan forklif ke sebuah lapangan yang berarti siap untuk dipasarkan guna memenuhi kebutuhan dalam maupun luar negeri.
Kepala Grup Operasi Pabrik Peleburan PT Inalum, Ismadi YS mengatakan 2025 menjadi tonggak sejarah penting bagi PT Inalum karena untuk pertama kalinya perusahaan BUMN ini menerima kiriman 21.467 metrik ton alumina yang diproduksi pabrik pemurnian bauksit oleh Smelter Grade Alumina Refinery 1 (SGAR) milik PT Borneo Alumnina Indonesia yang terletak di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Dari Tanah Borneo alumina diangkut menggunakan kapal menuju wadah penyimpanan atau silo menggunakan conveyor. Lalu, dengan menggunakan sistem dry scrubbing alumina direaksikan dengan bantuan gas hidrogen fluorida (HF) yang membentuk alumina reaktif.
Pengolahan berlanjut di tungku peleburan atau proses elektrolisi dalam pot reduksi untuk menghasilkan aluminium cair dan karbon dioksida (CO2) lewat bantuan energi listrik dan teknologi tinggi. Selanjutnya, aluminium cair diangkut menggunakan metal transport car ke pabrik pencetakan yang dibentuk menjadi tiga produk aluminium yakni Ingot, Alloy dan Billet.
Pada 2025 PT Inalum memiliki target produksi sebesar 277.011 ton aluminium. Namun, untuk mencapai angka tersebut butuh tambahan energi. Sebab, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Siguragura dan PLTA Paritohan yang dibangun pada 1978 itu baru mampu menghasilkan 600 Mega Watt (MW) listrik kapasitas terpasang.
Di saat bersamaan perusahaan BUMN ini memiliki branding aluminium hijau. Seluruh rangkaian proses produksi hingga siap dikomersilkan harus memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). Artinya, sumber energi untuk pengolahan aluminium harus bersih tanpa menimbulkan dampak polusi terhadap lingkungan.
Untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan aluminium nasional dan menjadi pemain di kancah internasional, PT Inalum harus menambah daya kelistrikan agar bisa menggerakkan mesin-mesin yang ada di smelter Kuala Tanjung sehingga produksi aluminium pun bisa digenjot.
Salah satu opsi yang cukup realistis dilakukan ialah mengakuisisi pembangkit listrik Asahan 1 dan Asahan 3 termasuk Asahan 4 apabila sudah beroperasi. Jika ini terealisasi, maka peluang PT Inalum mewujudkan Indonesia sebagai big player aluminium di kancah internasional dapat segera terwujud. Gabungan keempat pembangkit ini bisa menghasilkan kapasitas energi listrik hingga 1.000 MW. Berdasarkan penghitungan Inalum, daya 1.000 MW tersebut mampu menghasilkan hingga 450 ribu ton aluminium per tahunnya.





Kapal Noah Fortuna yang membawa alumina dari Smelter Grade Alumina Refinery 1 (SGAR) Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat bersandar di Pelabuhan PT Inalum di Kabupaten Kuala Tanjung, Sumatera Utara, Rabu (22/10/2025). Pada 2025 PT Inalum memiliki target produksi sebesar 277.011 ton aluminium. ANTARA/Muhammad Zulfikar




