Logo Header Antaranews Sumbar

Sri Meiyenti resmi raih gelar Doktor, angkat perspektif budaya dalam pencegahan stunting di Sumbar

Selasa, 3 Februari 2026 20:23 WIB
Image Print

Padang (ANTARA) - Sri Meiyenti resmi meraih gelar Doktor pada Program Doktor Studi Pembangunan, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Andalas, setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang digelar pada 27 Januari 2026. Ujian terbuka tersebut berlangsung di lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas dan dihadiri oleh sivitas akademika, keluarga, serta kolega.

Di bawah bimbingan promotor utama Prof.Dr. rer.soz. Nursyirwan Effendi, anggota promotor Prof, Defriman Djafri, SKM, MKM, Ph.D, dan Prof. Dr. Dodi Devianto, M.Sc, Sri Meiyenti mempresentasikan penelitian mendalam berjudul “Efektifitas Implementasi Kebijakan Pencegahan Stunting di Sumatera Barat: Perspektif Budaya ”. Kajian ini menyoroti bagaimana implementasi kebijakan pencegahan stunting dilaksanakan oleh petugas terdepan (Bidan dan Kader-kader) dan penerimaan sasaran (kelompok 1.000 Hari Peratama kehidupan), dilihat dari perspektif budaya di Sumatera Barat.

Dalam disertasinya, Sri Meiyenti mengkaji implementasi kebijakan pencegahan stunting di Sumatera Barat dengan menempatkan kebijakan sebagai proses sosial yang sarat makna, bukan sekadar instrumen teknokratis. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa keberhasilan kebijakan stunting tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan regulasi dan program, tetapi juga oleh bagaimana kebijakan tersebut dipahami dan dimaknai oleh masyarakat sasaran.

Penelitian dilakukan dengan menggabungkan metode penelitian kualitatif dan metode kuantitatif (mix method) di tiga kabupaten, yaitu Solok, Pasaman Barat, dan Pasaman. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta studi dokumentasi dan juga melalui penyebaran kuesioner pada pelaksana kebijakan tingkat terdepan—seperti bidan desa, kader posyandu, Kader Pembangunan Manusia (KPM)—dan kelompok sasaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak usia di bawah dua tahun .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pencegahan stunting secara normatif telah “on the track”, karena mencakup intervensi gizi spesifik dan sensitif. Namun, di tingkat implementasi, efektivitas kebijakan masih menghadapi tantangan budaya. Banyak masyarakat masih memaknai stunting sebagai kondisi alami atau keturunan, bukan akibat kekurangan gizi kronis. Perbedaan makna ini menciptakan kesenjangan budaya antara pelaksana kebijakan dan masyarakat, yang berdampak pada rendahnya perubahan perilaku jangka panjang.

Sri Meiyenti juga menemukan adanya kepatuhan simbolik, yakni masyarakat mengikuti kegiatan posyandu dan penyuluhan secara formal, tetapi belum sepenuhnya mengubah praktik pengasuhan dan pola makan anak. Sementara itu, budaya organisasi birokrasi yang berorientasi pada target administratif turut membentuk pola implementasi yang formalistik. Melalui kerangka Teori Interaksi Kontekstual dan perspektif budaya simbolik, disertasi ini menegaskan bahwa kebijakan perlu disampaikan secara dialogis dan sensitif terhadap nilai lokal agar mampu mendorong perubahan yang berkelanjutan.

Koordinator Program Doktor Studi Pembangunan SPs Unand, Prof. Dr. Rudi Febriamansyah, M.Sc, memberikan apresiasi tinggi terhadap kajian ini. Menurutnya, kajian ini menjadi kontribusi penting bagi pengembangan kajian kebijakan berbasis budaya, sekaligus memberi rekomendasi praktis bagi pemerintah daerah dalam merancang strategi pencegahan stunting yang lebih kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan di Sumatera Barat.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026