Legislator: MBG bisa mendukung atasi stunting

id Makan Bergizi Gratis,Komisi IX DPR RI dari Fraksi Gerindra,Ade Rezki Pratama,Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar

Legislator: MBG bisa mendukung atasi stunting

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Gerindra Ade Rezki Pratama saat Sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, Jumat. ANTARA/Aadiaat M. S. 

Parik Malintang (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Gerindra Ade Rezki Pratama mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mendukung upaya yang dilakukan pemerintah selama ini untuk mengatasi stunting.

"Stunting terjadi karena kurang gizi pada anak, nah MBG tidak saja untuk siswa namun juga untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita guna membantu memenuhi kebutuhan gizi mereka," kata Ade Rezki Pratama saat Sosialisasi Program Bangga Kencana di Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, (Sumbar), Jumat.

Ia mengatakan MBG dapat memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mulai dari masih dalam kandungan melalui ibunya hingga masa remaja agar tubuhnya dapat tumbuh serta otaknya berkembang dengan baik.

Namun, lanjutnya diperlukan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan pernikahan dini karena hal tersebut menjadi salah satu faktor lahirnya anak stunting.

Ia menyampaikan jika terjadi pernikahan dini maka berpotensi terjadi masalah kesehatan dan mental yang dapat mempengaruhi kesehatan bayi yang lahir.

Menurutnya pengentasan stunting diperlukan karena tidak saja berdampak pada fisik dengan tumbuh pendek namun juga perkembangan otaknya.

Ade mengatakan MBG tidak saja dapat membantu memperbaiki gizi anak namun juga berdampak ekonomi bagi masyarakat karena bahan baku program tersebut dapat diambil dari petani, peternak, dan nelayan setempat.

"Saat ini MBG memang belum ada di Padang Pariaman karena dapurnya belum ada, namun sebentar lagi insyaallah dapur MBG sudah berdiri melayani penerima manfaat di Padang Pariaman," katanya.

Setidaknya, lanjutnya diperlukan belasan dapur MBG untuk melayani penerima manfaat program tersebut mulai dari siswa untuk sejumlah jenjang pendidikan, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sumbar Mardalena Wati Yulia mengatakan permasalahan yang dihadapi saat ini yaitu stunting.

"Stunting bukan penyakit, tapi kondisi tubuhnya gagal tumbuh akhirnya pendek, otaknya gagal berkembang akhirnya bodoh," ujar dia.

Ia mengatakan stunting harus dicegah mulai dari sebelum nikah dengan melarang anak perempuan menikah sebelum memasuki usia 20 tahun sedangkan laki-laki sebelum usia 25 tahun. Pada usia itu dinilai seseorang belum sempurna di bidang reproduksi, mental hingga keuangan.

Ia juga meminta orang tua memperhatikan seribu hari pertama kelahiran serta menjaga kehamilan agar orang tua bisa fokus merawat dan menumbu hkembangkan anak sebelum berencana memiliki anak yang lainnya.

Pewarta :
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.