Mari ikut andil dan bahu membahu membabat informasi hoaks

id hoaks, berita padang, berita sumbar

Mari ikut andil dan bahu membahu membabat informasi hoaks

Close up of a computer keyboard with word of hoax on the red button (Getty Images/iStockphoto/CreativaImages)

Padang (ANTARA) - Era digital telah membawa banyak dampak dan perubahaan terhadap kehidupan sosial masyarakat termasuk dengan adanya kemudahan penyebaran pesan dan informasi. Saat ini, kita bisa mengakses informasi hanya dalam satu genggaman tanpa adanya batasan ruang dan waktu. Informasi-informasi tersebut dapat kita akses melalui berbagai media seperti media cetak, media elektronik hingga media sosial.

Namun, seiring dengan semakin derasnya laju informasi ini justru memunculkan masalah baru yaitu maraknya berita hoaks. Berita hoaks ini berisi informasi yang tidak sesuai fakta dan tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Sinan Aral, Profesor Manajemen di the Massachusetts Institute of Technology memaparkan pada penelitiannya yang dipublikasikan di jurnal Science bahwa berita hoaks lebih cepat tersebarluas dibandingkan dengan berita benar.

Bahkan 1 persen dari berita bohong yang paling populer berhasil menjangkau 1.000 hingga 10.000 pengguna. Sementara berita asli sangat jarang menjangkau 1.000 pengguna di twitter.

Maraknya hoaks di dunia maya dan dengan mudahnya penyebaran informasi melalui media sosial tentunya dapat menimbulkan beragam opini masyarakat. Penyebaran berita hoaks ini juga mampu membawa pada kerancuan informasi dan kehebohan publik akan suatu informasi, bahkan dapat juga berakibat pada perpecahan suatu bangsa.

Contoh nyata yang dapat kita lihat pada masa pandemi covid-19 ini yaitu banyak masyarakat yang enggan untuk divaksin dikarenakan telah termakan oleh berita hoaks yang menginformasikan bahwa vaksin dapat memberikan pengaruh buruk terhadap tubuh dan merupakan bisnis pemerintah semata. Padahal berita tersebut tidak benar dan tidak sesuai dengan fakta.

Dengan dampak yang ditimbulkan dari berita hoaks ini tentunya menimbulkan keresahan pada sebagian besar masyarakat.

Banyak orang yang mulai sadar bahwa berita hoaks ini perlu diberantas dan dicegah penyebarannya.

Hashtag #BabatHoaksJahat yang sempat trending pada 19 Oktober 2021 di twitter, telah memberikan gambaran bagaimana keresahan masyarakat terhadap berita hoaks. Dengan trendingnya hashtag ini juga secara tidak langsung dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak jahat dari hoaks karena banyak orang yang membagikan cuitan yang berisi informasi seputar dampak hoaks dan bagaimana cara mencegah serta mengatasinya.

“Saring before sharing” merupakan ungkapan yang sederhana yang dapat menjadi solusi terbaik untuk mencegah dan mengatasi penyebaran hoaks. Sebagai masyarakat yang cerdas, kita harus bisa menyaring informasi terlebih dahulu sebelum kita membagikannya.

Dilansir dari halaman kompas.com, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoaks dan mana berita asli.

Pertama harus berhati-hati dengan judul provokatif. Lalu cermatilah alamat situs, jika situs yang tercantum merupakan situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi maka informasinya dapat dibilang meragukan.

Kemudian periksa fakta, perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya.

Lalu cek keaslian foto, karena banyak juga ditemukan foto palsu yang sengaja diedit atau dimanipulasi untuk memprovokasi pembaca.

Selanjutnya ikut serta grup diskusi anti-hoax, pada grup diskusi ini kita dapat mengetahui apakah suatu informasi merupakan hoaks atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain.

Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah seharusnya turut ikut serta dan bahu-membahu untuk memberantas hoaks. Hal ini dapat dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita misalnya kerabat dan keluarga.

Kita dapat membagikan informasi seputar hoaks dan bagaimana cara untuk mengatasinya kepada kerabat atau keluarga agar mereka dapat lebih teredukasi lagi dan lebih berhati-hati dalam menyaring informasi.

Selain itu kita juga dapat memanfaatkan media sosial yang kita miliki untuk membagikan tulisan atau konten-konten edukatif mengenai literasi media agar semakin banyak masyarakat yang teredukasi.

Dengan ini tentunya diharapkan masyarakat dapat lebih peduli terhadap informasi yang dibaca dan senantiasa selalu meningkatkan literasi terhadap media agar tidak termakan berita hoaks. Karena hoaks akan tetap ada, tetapi kita memiliki kontrol untuk tidak mempercayai dan membagikannya.

Penulis merupakan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi Unand Padang