Pengaruh IOD positif terhadap curah hujan tahunan dan dampaknya terhadap produksi padi di Sumbar

id iklim

Pengaruh IOD positif terhadap curah hujan tahunan dan dampaknya terhadap produksi padi di Sumbar

Pengunjung berada di pantai saat awan menyelimuti kawasan Pantai Padang, Sumatera Barat, Selasa (2/2/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan di Indonesia terjadi pada bulan Februari 2021 dan meminta masyarakat untuk tetap waspada. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp.

Padang (ANTARA) - IOD peristiwa yang mirip dengan fenomena elnino/lanina yang menjadi perbedaan utama adalah lokasi samuderanya. IOD terjadi di Samudra Hindia dengan nilai perbedaan anomali suhu permukaan laut (SPL) antara bagian Barat (100 LU- 100 LS; 600 BT-80 0BT) dan bagian Timur (00-100 LS ; 900 – 1100 BT).

Proses interaksi laut-atmosfer oleh IOD mempengaruhi pola anomali curah hujan di daerah tropis melalui telekoneksi (hubungan sebab akibat jarak jauh) antara lautan dan atmosfer. Apabila anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia tropis bagian barat lebih besar daripada di bagian timurnya, maka tekanan udara di atmosfer di Samudera Hindia tropis pantai Barat Sumatera akan sangat rendah dibandingkan di bagian Timurnya.

Sehingga konveksi akan tinggi di Samudra Hindia tropis bagian Barat yang akan menyebabkan terjadi peningkatan curah hujan dari normalnya di pantai timur Afrika dan Samudera Hindia bagian barat. Sedangkan dipantai Barat Sumatera (Indonesia) terjadi tekanan udara yang lebih tinggi dari normalnya sehingga mengalami penurunan curah hujan dari normalnya yang menyebabkan kekeringan.

Nilai IOD atau DMI (diole mode indeks) sudah dikeluarkan dari berbagai institusi Meteorologi dunia seperti NOAA dan bom.gov serta Jamstec.

Sumber : https://psl.noaa/gov/data/timeseries/DMI yang sudah diolah terdapat beberapa kali kejadian iod Positiv kuat (> 0.4). Kejadiaan ini yaitu pada bulan Mei hingga November 1994, Juli hingga Desember 1996, Juli 1997 hingga Februari 1998. Nilai Iod tertinggi pada bulan November 1997 dengan : 1.54. Tahun 2002 terjadi di bulan Oktober dengan nilai : 0.57. tahun 2006 bulan September sampai November, di dekade terakhir iod positiv kuat semakin sering yaitu pada tahun 2010 pada bulan Maret hingga April. 2012, 2015, 2017, 2018 dan 2019 dan Juni 2020.

Tahun 2019 aktivitas iod positiv kuat terjadi yang cukup panjang terjadi selama sembilan bulan dari bulan Januari hingga Februari dan Mei sampai dengan November.

Dilihat dari sifat hujan tahunan di Sumatera Barat terdapat penurunan dan juga penambahan curah hujan di sepanjang pantai dan daerah sekitar bagian bukit barisan.

Sifat hujan bawah normal di daerah NON ZOM terutama disepanjang pesisir barat 75 persen yaitu Pasaman Barat, Agam, Padang Pariaman, Padang, Pesisir Selatan sedangkan daerah ZOM bersifat Atas normal daerah ZOM yang bersifat atas normal yaitu Kab lima Puluh Kota, Tanah Datar, Sijunjung, Dharmasraya dan Kota Solok. Daerah yang memiliki sifat hujan tahunan Normal yaitu di daerah Payakumbuh, Sei Dareh.

Adapun daerah NON Zom masih memiliki sifat hujan Normal yaitu di daerah Batang kapas, Sei Limau dan Kayu Tanam sekitar 25 persen.

IOD positiv kuat tidak berpengaruh terhadap sifat hujan tahunan daerah Zom tetapi membuat daerah tersebut lebih basah bersifat atas normal. Sebaliknya daerah NON ZOM lebih terpengaruh khususnya daerah pesisir pantai dengan sifat hujan bawah normal denga curah hujan lebih rendah dari normalnya.

Musim kemarau di Sumatera Barat pada tahun 2019 masuk kategori normal diawali bulan Juni dan Juli berakhir di bulan September. Pada Tahun 2020 musim kemarau terjadi lebih awal dari bulan mei hingga Agustus 2020 dengan kondisi yang lebih pendek.

Dikutip dari sumatera.bisnis.com bahwa produksi padi Tahun 2019 sebesar 1,493 juta ton gabah kering giling (GKG) setara 854, 27 ribu ton beras dan produksi tertinggi pada bulan maret 154.88 ribu ton. Produksi padi tahun 2019 lebih baik daripada produksi padi tahun 2020. Tahun 2020 terjadi penurunan produksi padi (6,45 persen ) dengan produksi tertinggi pada bulan April dan terendah bulan Desember 2020. Daerah yang mengalami penurunan produksi yaitu Kabupaten Pesisir Selatan, Tanah Datar dan Solsel.

Dapat disimpulkan daerah Sumatera Barat yang terpengaruh curah hujan akibat IOD positiv kuat yaitu didaerah Pesisir pantai barat. Jika dilihat dari produksi padi maka tidak terdapat pengaruh atau dampak, hasil produksi padi yang masih surplus dari kebutuhan padi masyarakat padi di Sumatera Barat. Jika dilihat dari kejadian hujan ekstrim (hujan diatas 100 milimeter) selama tahun 2019 terjadi 176 kali. Masih berada pada kondisi rata-rata dalam sepuluh tahun terakhir yaitu 164 kejadian. Kejadian hujan ekstrim tahun 2020 tercatat 300 kejadian paling tinggi hampir dua kali lipat dari rata-ratanya.

Penulis merupakan PMG Muda staklim BMKG Padang Pariaman

Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar