Ditinggal induknya di kebun jagung, dua ekor anak kucing hutan diserahkan ke BKSDA

id kucing hutan,bksda agam,penyerahan satwa dilindungi

Ditinggal induknya di kebun jagung,  dua ekor anak kucing hutan diserahkan ke BKSDA

Anak kucing hutan (ANTARA/HO)

​​​​​​​Lubukbasung, (ANTARA) - Salah seorang warga Balai Ahad, Nagari Lubukbasung, Kabupatrn Agam, Sumatera Barat, Azuzul Hakim (31) menyerahkan dua ekor satwa liar dilindungi jenis kucing kuwuk atau kucing hutan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Kamis (14/5).

"Kucil hutan atau Prionailurus bengalensis saya temukan beberapa hari lalu di kebun jagung miliknya dalam kondisi ditinggalkan induknya," katanya di Lubukbasung, Jumat.

Takut induknya akan kehilangan, tambahnya, anak kucing tersebut dibiarkan tetap di situ selama tiga hari dan ternyata sang induk tidak datang sehingga satwa tersebut dibawa pulang.

Mengetahui jenis kucing tersebut termasuk satwa dilindungi, Azuzul selanjutnya menghubungi pihak BKSDA untuk menyerahkan satwa tersebut.

"Satwa langsung kita serahkan karna satwa itu sangat langka," katanya.

Sementara Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra menambahkan petugas langsung melakukan observasi kedua anak kucing tersebut.

"Kedua anak kucing itu berjenis kelamin jantan dengan usia sekitar satu minggu," katanya.

Untuk sementara anak kucing tersebut akan dirawat dan direhabilitasi pihak BKSDA sampai dengan kondisinya siap dan layak untuk dilepaskan kembali ke habitatnya.

BKSDA menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada warga tersebut yang dengan penuh kesadaran dan kepedulian telah menyelamatkan dan menyerahkan satwa tersebut kepada BKSDA.

Kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa yang memiliki totol-totol menyerupai corak kulit dari mancan tutul sehingga dalam bahasa Inggris kucing disebut juga dengan leopard cat.

Tempat hidup atau habitat kucing ini bervariasi, meliputi hutan tropis, semak belukar, hutan pinus, semi-gurun, daerah pertanian, hingga daerah bersalju tipis. Kucing ini mampu hidup dihabitat dengan ketinggian mencapai 3.000 MDPL.

Kucing ini merupakan jago memanjat dan suka beraktivitas pada malam hari (nokturnal).

Di Indonesia, sejak tahun 1999 satwa ini masuk dalam jenis dilindungi, sehingga setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, memiliki, menyimpan, memelihara, mengangkut dan memperniagakannya baik dalam keadaan hidup atau mati. Sesuai dengan Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar