Garut, (Antara) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan salah satu faktor bencana longsor menimbun tiga orang di wilayah Kamojang, perbatasan Kabupaten Garut-Bandung, Jawa Barat, Sabtu, akibat alih fungsi lahan milik Perhutani menjadi tanaman musiman. "Alih fungsi lahan juga bisa jadi, karena disana itu lahan Perhutani banyak ditanami tanaman musiman," kata Kepala BPBD Kabupaten Garut, Zatzat Munazat, melalui telepon seluler, Sabtu. Faktor lain bencana di lokasi Burung KMJ 45, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang itu, kata Zatzat kurangnya tanaman keras atau pohon yang dinilai mampu mencegah longsor. "Kejadian longsor ini baru pertama, kalau melihat kondisi di lokasi memang tanaman keras jarang, sedikit," katanya. Apalagi jalan yang berada diatas lokasi longsor itu, kata Zatzat sering dilalui kendaraan besar proyek operasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap Pertamina wilayah Kamojang. "Bisa jadi salah satu pemicu (longsor) karena memang jalan yang ada diatas sering dilalui alat berat," katanya. Sementara itu tanah tebing Puncak Lancang setinggi 300 meter itu tiba-tiba longsor sekitar pukul 07.30 WIB di lahan perkebunan milik Perhutani. Longsoran tanah tebing itu menimbun tiga orang petani yaitu Elah (40), Enoh (40) dan Juhaena (36) dan nyaris menimbun seorang petani lainnya Endang (46) yang sedang beraktivitas bertani. Korban tertimbun material tanah longsor setinggi 7 sampai 10 meter. Petugas gabungan unsur TNI/Polri, relawan bencana dan masyarakat melakukan upaya pencarian dengan alat seadanya. Sementara alat berat untuk memudahkan proses menyingkirkan tumpukan tanah longsor tidak dapat menuju lokasi longsor karena tidak ada akses jalan. (*/jno)
