Candi Borobudur dengan berbagai ceritanya

id Candi Borobudur, arca,UNESCO,destinasi, kecamatan magelang,Ganjar Pranowo

Candi Borobudur dengan berbagai ceritanya

Petugas Balai Konservasi Borobudur (BKB) membersihkan batu candi dari lumut dan jamur di Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (2/10/2019). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc. (ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN)

Magelang (ANTARA) -

Candi Borobudur di Kecamatan Magelang memiliki ketinggian mencapai 35 meter, candi ini merupakan salah satu candi terbesar dan tertinggi di dunia. Dengan tinggi tersebut membuat berbagai relief dan arca yang dimilikinya sangat banyak. Relief dan arca tersebut berbentuk melingkar dengan dilengkapi stupa-stupa berlubang yang di dalamnya memuat arca buddha tengah duduk bersila.

Para peneliti meyakini bahwa candi ini dibangun pada masa pemerintahan wangsa Syailendra pada abad 800 sebelum masehi dengan ditemukannya jenis aksara yang biasa ditulis pada masa tersebut. Peneliti juga meyakini dengan dibentuknya beberapa stupa dan reliefnya akan dapat menjabarkan keseluruhan kenapa bangunan ini dibentuk.

Menyampaikan Peristiwa

Candi Borobudur adalah sebagai tempat bersejarah yang berhubungan langsung dengan eksistensi manusia. Sejarahnya sudah menjadi daya tarik yang melegenda. Stupa yang berlubang dengan didalamnya terdapat archa yang sedang beribadah memiliki makna sendiri yang terkandung didalamnya. Dipercaya berarti bahwa seperti proses kehidupan manusia di setiap detiknya memerlukan sikap bijak dan ketenangan, serta tidak boleh dapat mudah terganggu dengan nafsu duniawi yang berujung pada kesengsaraan.

Sementara itu pada bagian timur candi, dapat ditemui sebuah lingkaran kehidupan dengan bentuk undakan yang berjumlah tiga. Pada setiap undakan tersebut memuat ajaran kehidupan dari para leluhur Buddha, yakni hawa nafsu pada tingkatan pertama (dunia), ranah berwujud (eksistensi manusia) pada undakan kedua, dan yang ketiga bermakna ranah tak berwujud (nibbana). Ketiga perjalanan tersebut memuat pokok-pokok kehidupan manusia di alam dunia yang didalamnya terdapat banyak sekali penderitaan (dukha) dan nafsu duniawi, namun sang buddha akan menjamin para manusia akan mendapatkan nibbana jika berbuat baik, yaitu kebahagiaan mutlak.

Candi Borobudur Dalam Bahaya dan Usaha Untuk Melestarikannya

Sebagai tempat wisata, campur tangan masyarakat yang mengunjunginya telah berdampak langsung terhadap Candi Borobudur ini. Sejak awal mulanya candi ini berdiri, Borobudur memiliki arca Buddha dengan jumlah 504 arca, namun saat ini sudah banyak yang rusak dan tanpa kepala. Kerusakan dan kehilangan arca tersebut membuat semua kalangan khawatir. Pasalnya candi tersebut merupakan situs warisan dunia sebagai tempat pusat pemujaan dewa para umat Buddha pada saat kerajaan Mataram berkuasa. Kerusakan tersebut pun tidak hanya terjadi pada patung dan arca, tahun 2014 kemendikbud menilai bahwa kurangnya tata kelola pada ruang kawasan Borobudur akan dapat merusak ekosistem dan kelestarian cagar budaya di sekitar area Borobudur.

Tahun ini, presiden Republik Indonesia memerintahkan 5 kementerian untuk ikut serta dalam pengembangan wisata di Candi Borobudur. langkah ini dibarengi dengan pembangunan fasilitas-fasilitas penunjang kebutuhan para wisatawan, seperti kuliner, pentas seni, dan toko-toko cinderamata. Usaha tersebut ditargetkan dapat menarik total jumlah wisatawan mancanegara sekitar 5 juta orang pada tahun ini. Menurut data yang diungkapkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tahun 2019, jumlah wisatawan yang mengunjungi candi ini sudah mencapai 2,6 juta orang, dengan 250.000 diantaranya merupakan wisatawan mancanegara.

Bagi penikmat sejarah dan budaya, terdapat kesempatan yang luar biasa untuk menikmati setiap seluk beluk peristiwa dalam setiap langkahnya di candi ini. banyaknya stupa, relief, dan arca-arca yang berdiri, akan sukses mengabadikan setiap momen bersejarah pada masa tersebut. Mata dunia hadir menyaksikan keberlangsungan candi ini. UNESCO, sebagai lembaga yang memprioritaskan perdamaian negara melalui budaya, menetapkan candi ini sebagai warisan budaya dunia pada tahun 1991, sehingga menjadi salah satu keajaiban dunia.

Pewarta :
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar