"Meneroka Oase" di tengah layunya Pariwisata Sumbar

id wisata minat khusus

Wisata snorkeling di Kawasan Wisata Mandeh Pesisir Selatan. Salah satu wisata minat khusus yang bisa dikembangkan untuk menarik wisatawan ke Sumbar. (ANTARA SUMBAR/Iggoy el Fitra)

Padang, (ANTARA) - Dunia pariwisata tiba-tiba menjadi "layu" usai maskapai menerapkan tarif batas atas untuk tiket pesawat berbiaya murah (Low Cost Carrier) pada penerbangan domestik sejak akhir 2018.

Bahkan pada "peak season" saat libur lebaran, musim yang biasanya sangat ditunggu-tunggu pengusaha hotel, wisatawan yang berkunjung tetap saja tidak sesuai harapan, jauh dari kata memuaskan.

Lesunya dunia pariwisata itu juga sangat dirasakan di Sumatera Barat yang sedang fokus mengembangkan potensi daerah untuk "dijual" pada wisatawan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar, Maulana Yusran menyebut tingkat hunian kamar hotel pada periode "emas" musim libur lebaran pada Juni biasanya sangat tinggi. Meski pada periode itu harga kamar hotel biasanya melejit, tetapi orang tetap berebut untuk menginap.

Tetapi hal itu tidak terjadi pada 2019. Okupansi hotel hanya berkisar antara 50-60 persen, turun cukup drastis dari 2018 yang bisa mencapai 80 persen lebih. Ia mencatat penurunannya mencapai 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

Hal itu senada dengan data dari PT Angkasa Pura II yang mencatat penurunan kedatangan melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada momentum lebaran 2019 yang turun lebih dari 20 persen.

Jika pada "peak season" saja menurun demikian drastis, apatah lagi pada "hight" atau "low season", tentu lebih parah. Padahal target kunjungan wisatawan Sumbar tahun ini cukup tinggi, wisatawan mancanegara sebanyak 57.087 orang dan wisatawan domestik sebanyak 8.476.724 orang.

Kebijakan pemerintah untuk "memaksa" maskapai menurunkan harga tiket penerbangan domestik pada Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB ternyata tidak terlalu banyak membantu, karena penerbangan Padang-Jakarta dan sebaliknya pada jadwal itu sangat terbatas.

Penerbangan Padang-Jakarta pada jam 10.00-14.00 WIB hanya ada satu penerbangan perhari yaitu maskapai Lion Air dengan waktu keberangkatan 10.35 WIB dan sampai di Cengkareng 12.25 WIB. Sementara maskapai Citylink tidak punya penerbangan pada jadwal tersebut.

Penerbangan dari Jakarta-Padang masih agak mendingan. Lion punya dua penerbangan yaitu pukul 11.55 WIB dari Cengkareng dan sampai 13.40 WIB di Padang serta berangkat pukul 13.10 WIB sampai di Padang 14.55 WIB. Harga tiket yang ditawarkan juga relatif murah sesuai kebijakan yang ditetapkan yaitu Rp759.700 per pax.
Konservasi penyu dan wisata melihat penyu bertelur juga memiliki pasar yang baik untuk dikembangkan. (ANTARA SUMBAR/Fandi Yogari)


Namun jumlah itu masih sangat sedikit jika tujuannya adalah mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke daerah. Karena itu Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) Sumbar Ian Hanafiah menyebut kebijakan tiket murah itu masih setengah hati. Padahal industri pariwisata di Sumbar sangat tergantung pada ketersediaan pesawat sebagai transportasi yang cepat dan murah.

Ditambah lagi, sebagian maskapai juga sudah menerapkan kebijakan bagasi berbayar yang membuat wisatawan enggan untuk berbelanja oleh-oleh guna dibawa ke kampung halaman.

Pegawai toko oleh-oleh di Sumbar jadi sendu, mereka paham hanya tinggal menunggu waktu kapan bom PHK meledak. Ah, betapa dulu pariwisata itu terlihat begitu cerah... .

Kondisi itu jika dibiarkan terus tanpa solusi yang jelas, tidak hanya pegawai toko oleh-oleh yang menjadi sendu, pengrajin, pengusaha UMKM, hingga home stay dan hotel akan layu menunggu mati.

Menggantungkan harapan pada penurunan harga tiket pesawat penerbangan domestik seperti "dulu", rasanya bukan lagi pilihan.Perlu inovasi dan upaya luar biasa untuk bisa membangkitkan kembali pariwisata di daerah di tengah badai ini.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sumbar, Hendri Agung Indrianto menilai salah satu solusi yang bisa menjadi oase di tengah layunya industri pariwisata itu adalah mengembangkan wisata minat khusus (special interest tourism) yang ditujukan kepada wisatawan dengan minat atau tujuan maupun motivasi khusus dalam berwisata.

Wisata itu biasa dihubungkan dengan aktivitas petualangan atau adventure seperti snorkling atau diving, pengamatan penyu atau lumba-lumba, arung jeram, mendaki gunung bahkan yang lebih sederhana menawarkan pengalaman bercocok tanam bagi wisatawan.

Sumatera Barat memiliki potensi sangat besar untuk mengembangkan wisata jenis ini karena didukung oleh geografis daerah yang memiliki garis pantai yang panjang dengan pulau-pulau kecil, ratusan sungai dan anak sungai serta berlembah-lembah, berbukit dan gunung.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat Sumbar memiliki tujuh Kawasan Konservasi Perairan daerah (KKPD) masing-masing di Pesisir Selatan, padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, Mentawai dan Kota Pariaman dengan luas mencapai 337.645,95 hektare.

Kawasan itu bisa menjadi modal besar untuk pariwisata minat khusus seperti praktik selam ramah lingkungan, transpalantasi karang atau menanam mangrove, outbond/camping, traking dan hiking, sajian belajar makanan khas lokal, dan belajar seni budaya lokal seperti silat tari. Keberadaan biota laut seperti penyu, lumba-lumba dan paus juga bisa menjadi faktor penarik bagi wisatawan.

Salah satu yang telah memulai melakukan "branding" untuk pariwisata khusus adalah Taman Wisata Pulau (TWP) Pieh di Padang yang terdiri dari beberapa pulau.

Pulau toran diarahkan menjadi "survival island" tempat orang yang mencari petualangan. Informasinya pernah ada bule yang berani membayar mahal untuk melakukan kegiatan "survival" sendirian selama 19 hari di sana.

Kemudian Pulau Pandan dicitrakan sebagai "historical island" karena ada sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda di pulau tersebut. Pulau itu juga menjadi tempat bertelur bagi penyu sehingga bisa dijadikan salah satu daya tarik bagi wisatawan. Jumlah maksimal wisatawan dalam satu kali kunjungan ke sana hanya 44 orang.

Pulau air diarahkan pada family island karena relatif paling dekat dengan daratan besar. Di pulau ini bisa wisata camping, snorkling dan kegiatan lain yang memungkinkan dengan jumlah wisatawan maksimal 28 orang dalam satu kali kunjungan.

Pulau Pieh bisa dijadikan educatiom island dengan kegiatan menarik seperti diving, snorkeling, area kamping, melihat atraksi lumba-lumba di lautan serta penyu. Pulau ini maksimal dikunjungi 55 orang perkunjungan.

Sementara Pulau Bando dibranding sebagai cultural island. Pulau itu dikelola kelompok masyarakat yang dinamai raja samudra. Mereka didorong bisa membawa budaya Minang untuk dijadikan sebagai atraksi wisata bersama wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian menyebut Sumbar juga punya tiga Geopark Nasional yang sudah terdaftar dalam Kawasan Potensi Taman Bumi Geopark masing-masing Silokek di Kabupaten Sinjujung, Geopark Ngarai Sianok di Kabupaten Agam/Bukittinggi dan Geopark Sawahlunto di Kota Sawahlunto. Ada pula satu Warisan Budaya Dunia UNESCO yaitu Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto yang menguntungkan pada pariwisata daerah.

Lokomotif uap tua peninggalan Belanda, E10 60 yang dijuluki Mak Itam serta lokomotif legendaris BB204 untuk melintasi rel gigi sepanjang 35 kilometer di Sumbar juga bisa menjadi modal untuk mengembangkan wisata minat khusus di Sumbar.

Namun pelaku usaha bidang pariwisata memang harus bekerja keras. Perusahaan perjalanan misalnya harus berinovasi membuat paket-paket wisata khusus, bagaimana menarik wisatawan berdasarkan minatnya. Peluang itu sangat besar karena salah satu keunggulan wisatawan minat khusus adalah telah memiliki persiapan anggaran yang matang sehingga harga tiket tidak lagi menjadi persoalan utama.

Sejumlah pihak berkaitan dengan pariwisata sebenarnya sudah mulai bergerak di tengah terus merosotnya jumlah kunjungan wisatawan di Sumbar. Perusahaan perjalanan wisata di Padang, Ero Tour misalnya, menghidupkan kembali paket wisata kurban dengan membidik wisatawan dari Singapura.

Pemilik Ero Tour, Ian Hanafiah menyebut paket wisata unik tersebut sebelumnya pernah dilakukan, tetapi tidak berlanjut. Kebetulan tahun 2019 ini ada agen perjalanan dari Singapura yang meminta agar dibangkitkan kembali. Ditargetkan 30 wisatawan Singapura akan mengikuti paket wisata tersebut.
Sejumlah peserta Minang Trail Adveture (MTA) terpukau dengan keindahan alam Sumbar. Wisata bagi pecinta trail juga memiliki prospek untuk dikembangkan. (ANTARA SUMBAR/Koleksi Dinas Pariwisata Sumbar)


Minang Trail Adventure (MTA) merupakan salah satu contoh pengembangan minat khusus yang berhasil digelar di Sumbar. Kegiatan yang diikuti sekitar 700 orang peserta dari lima negara itu masing-masing Indonesia dan 33 orang dari Malaysia, Vietnam, China dan Thailand.

Trek yang dilewati selama tiga hari 19-21 Juli 2019 itu melalui lima kabupaten dan kota di Sumbar masing-masing Padang Panjang, Tanah Datar, Solok, Kabupaten Solok dan Pesisir Selatan.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sumbar, Hendri Agung Indrianto menyebut kegiatan itu memberikan dampak langsung secara ekonomi kepada masyarakat karena seluruh peserta menginap dan berbelanja di Sumbar. Selain itu dampak promosi juga sangat besar melalui akun media sosial masing-masing peserta.

Hampir seluruh peserta mengabadikan pengalaman saat berhenti pada titik-titik indah yang dilewati sepanjang perjalanan dan membagikannya di media sosial. Promosi itu bisa sangat efektif untuk bisa menarik wisatawan lain untuk juga menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya di Sumbar.

Dari Limapuluh Kota, tersiar pula rencana gelaran sepeda gunung dengan target 400 peserta dari seluruh Indonesia pada 24-25 Agustus 2019. Treknya akan mengeksplorasi keindahan alam destinasi wisata Kayu Kolek di Nagari Sikabu-kabu Tanjung Haro Padang Panjang.

Kabupaten Solok juga punya "Jawi-Jawi Slow Tourism Village". Kekuatan budaya dan kearifan lokal menjadi kekuatan paket wisata itu. Makan Bajamba di Rumah Gadang, menyusuri perkampungan menikmati alam, mandi di sungai dan penganan kopi dan gorengan sore.

Sederhana bagi masyarakat, tetapi akan begitu sederhanakah pengalaman itu bagi wisatawan asing? Kapan pula "bule-bule" itu bisa merasakan nikmatnya kopi Solok nan kesohor itu sambil makan goreng pisang?

Mencoba meracik bawang lalu membuat gulai untuk makan malam? Begitu banyak peluang di Ranah Minang ini, oase di tengah kerontang pariwisata yang "klenger" dihajar mahalnya tiket pesawat. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar