112 Ha hutan dan lahan gambut kering hangus terbakar di Aceh

id Gambut Kering,Hangus Terbakar,Pemerintah Aceh,Karhutla

112 Ha hutan dan lahan gambut kering hangus terbakar di Aceh

Sejumlah warga berusaha memadamkan api yang membakar lahan gambut dengan alat seadanya di Desa Napai, Kecamatan Woyla Barat, Aceh Barat, Aceh, Senin (8/7/2019). (Antara Aceh/Syifa Yulinnas.)

Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Aceh menyebut, sedikitnya seluas 112 hektare lebih hutan dan lahan gambut dalam kondisi kering serta semak belukar dan perkebunan kelapa sawit hangus terbakar yang tersebar pada 10 kabupaten di Aceh.

"Kondisinya 90 persen hangus, akan tetapi sudah dapat dipadamkan. Memang masih ada satu kabupaten lagi, masih kita lakukan upaya pemadaman," kata Kepala Pelaksana Badan Penangulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Selasa.

Kabupaten tersebut adalah Aceh Barat. Petugas pemadam bersama satuan tugas gabungan kebakaran hutan dan lahan terdiri dari TNI/Polri, dan masyarakat terus melakukan upaya pemadaman akibat luas wilayah yang terbakar bertambah mendekati area pemukiman warga sekitar 45 hektare di antaranya.

Peristiwa kebakaran diduga sengaja dibakar oknum tidak bertanggungjawab berlangsung hingga kini dan mulai terjadi sejak tanggal 5 Juli, seperti Nagan Raya melanda empat kecamatan dengan luas 32,5 hektare.

Lalu di Aceh Besar terjadi di lima kecamatan seluas 20 hektare di antaranya, dan beberapa hektare terbakar di Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. "Kini tim pemadam yang dibantu masyarakat setempat sedang berusaha memadamkan api di Desa Napai, Kecamatan Woyla Barat, Aceh Barat," kata dia.

Ia memaparkan, upaya pemadaman dilakukan pihaknya ke Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan unsur terkait di lokasi kebakaran, yakni mendistribusikan sepatu tahan api sebanyak 100 pasang, mendistribusikan alat pemukul api 50 unit, lalu meminjamkan pompa bantuan dari Badan Penangulangan Bencana Nasional (BNPB) tujuh unit, bantuan selang 25 rol, menyalurkan masker kepada warga di area yang terbakar, dan lain sebagainya.

"Kendala yang sedang kita hadapi, yakni masih kekurangan pompa bertekanan tinggi 10 unit, selang air 50 rol, alat-alat pemukul api, dan cairan peresap," kata Dadek.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh menyatakan, rerata kecepatan angin secara umum berkisar 10 hingga 30 kilometer per jam.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh, Zakaria Ahmad mengatakan, satelit tidak mendeteksi titik panas di wilayah Aceh. "Dari satelit, belum tampak sebaran titik panas. Mungkin luasan kebakaran belum memenuhi syarat agar dapat dibaca, seperti Aceh Barat," katanya.*

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar