Mudik naik kapal itu nyaman asal ....

id Arus balik,Lebaran 2019,Kapal laut,Mudik Lebaran 2019,Idul Fitri 1440H,Info Mudik,ramadhan,tradisi lebaran,arus mudik,ar

Calon penumpang tengah melihat KM Dobonsolo yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (11/6/2019), sembari menunggu jadwal keberangkatan kapal. (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Jakarta (ANTARA) - Tingginya harga tiket pesawat pada musim mudik Lebaran 2019 membuat masyarakat mengalihkan moda transportasi untuk pulang ke kampung halaman menggunakan ke kapal laut.

Berdasarkan data PT Pelni sejak 21 Mei hingga 4 Juni 2019, jumlah pemudik yang menggunakan kapal laut meningkat 16,39 persen dari 273.107 penumpang pada 2018 menjadi 317.872 orang di periode mudik lebaran yang sama.

Nasikin (45) warga Kota Batam yang baru berkesempatan mudik ke Provinsi Kepulauan Riau pada hari ini mengaku sudah sering menggunakan moda transportasi kapal laut.

Namun, tidak jarang juga Nasikin menggunakan pesawat terbang untuk pulang ke kampung halaman dari tempat usahanya di Bogor jika kondisi memungkinkan. Apabila harga tiket pesawat sedang tinggi seperti saat musim libur Lebaran tahun ini, Nasikin memilih kapal laut untuk pulang.

"Tergantung kondisi, kalau tiket pesawat Rp600-700 ribu saya naik pesawat biar cepat," kata dia. Terakhir Nasikin mengecek ketersediaan tiket pesawat dari Jakarta ke Batam sebesar Rp1,5 juta sekali jalan.

Laki-laki asal Indramayu yang sudah menjadi warga Batam itu mengakui moda transportasi kapal laut sudah sangat nyaman untuk digunakan. Berdasarkan pengalamannya pula, Nasikin tidak pernah mengalami kendala cuaca dalam perjalanan yang dapat membahayakan.

"Nyaman naik kapal, kapalnya bersih selalu dibersihin cleaning service, makanannya enak bisa ambil sepuasnya, pas makan ada band-nya," kata Nasikin yang merasa terhibur saat makan disuguhi iringan musik.

Nasikin akan berangkat menggunakan KM Kelud tujuan Batam yang berlayar pada pukul 12 malam nanti. Dia membeli tiket kelas 2A seharga Rp556 ribu untuk satu orang dengan fasilitas kamar berisi enam penumpang dan kamar mandi dalam.

Menurut Nasikin yang biasa menggunakan KM Kelud, perjalanan laut ke Batam dari Jakarta antara satu hari satu malam atau dua hari satu malam.

"Naik kapal laut nyaman, asal sabar," tegas dia.

Beda dengan Nasikin yang baru mudik, Arsyad bin Syirah (43) warga negara Malaysia yang menikah dengan WNI asal Ciamis Jawa Barat Neti Rohaeti (40) sudah menjalani arus balik dari Ciamis menuju Kuala Lumpur Malaysia.

Namun bedanya, Arsyad dan Neti yang membawa serta dua anaknya belum pernah menggunakan transportasi laut.

"Ini first time kami naik kapal laut, kita try lah, biasanya naik pesawat," kata Neti yang sudah terbiasa dengan bahasa campuran Inggris-Melayu ala Malaysia namun masih kental logat sundanya.

Alasan Arsyad sekeluarga menggunakan kapal laut pun sama dengan Nasikin, yaitu karena tiket pesawat mahal.

Malahan, Keluarga Arsyad bahkan bisa disebut jalan-jalan keliling Indonesia lebih dulu karena kapal yang ditumpanginya dengan tujuan Makassar akan bersandar lebih dulu di Surabaya sebelum melanjutkan pelayaran ke Sulawesi Selatan.

Neti mengaku hendak ke Makassar untuk mengunjungi kerabatnya lebih dulu. Setelah itu, dia sekeluarga akan berlayar lagi ke Kalimantan menuju Nunukan lalu masuk ke Malaysia menuju Sabah.

Sejak 21 Mei hingga 3 Juni 2019, penumpang yang berangkat dari Tanjung Priuk ke berbagai daerah seluruh Indonesia sebanyak 23.301 penumpang. Sementara penumpang arus balik Lebaran 2019 yang datang ke Jakarta melalui Pelabuhan Tanjung Priuk sebanyak 5.104 orang.

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar