Kisah pejuang ASI di Ranah Minang

id aimi

Pengurus Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumatera Barat bersama Gubernur Sumbar usai dikukuhkan. (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)

Padang, (Antaranews Sumbar) - Lima pasangan muda terlihat serius menyimak pemaparan yang disampaikan konselor Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumatera Barat. Sesekali mereka menimpali langsung pembicaraan konselor untuk bertanya.

"Bagaimana kalau seandainya air susu saya sedikit keluar saat pertama kali melahirkan, sementara bayi terus menangis," tanya seorang peserta.

Dengan gamblang konselor yang telah mengikuti pelatihan 40 jam versi badan kesehatan dunia WHO itu menjelaskan apa yang perlu dilakukan.

"Bunda tidak perlu cemas ukuran lambung bayi yang baru lahir hanya sebesar kelereng, jadi dapat dipastikan pada hari-hari pertama akan cukup," jawabnya.

Pada salah satu kelas edukasi ASI yang digelar AIMI Sumbar tersebut dijelaskan berbagai materi seputar ASI mulai dari inisiasi menyusu dini, manfaat ASI dan risiko susu formula, peraturan undang-undang seputar ASI dan menyusui, hari pertama kelahiran bayi hingga kunci keberhasilan menyusui.

Berawal dari semangat ibu-ibu di Sumbar yang aktif berdiskusi melalui jejaring sosial akhirnya lahirlah Komunitas Sumbar Peduli ASI yang kemudian bertransformasi menjadi AIMI Sumbar.

Ketua AIMI Sumbar Ria Oktorina menjelaskan kelas edukasi ASI diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan para calon ibu agar memiliki pengetahuan seputar ASI.

Menurutnya dari berbagai data yang dihimpun kesempatan menyusui dalam satu jam pertama setelah kelahiran dapat mencegah 22 persen kematian bayi baru lahir

"ASI sejak hari pertama kelahiran dapat mencegah 16 persen kematian bayi baru lahir," lanjutnya.
Sejumlah ibu mengikuti kegiatan menyusui bersama yang digelar AIMI Sumbar di Halaman Masjid Raya Sumbar, Minggu (24/4) (Ikhwan Wahyudi/Antarasumbar)


Sejak dikukuhkan secara resmi pada Juni 2015 AIMI selaku organisasi nirlaba fokus mengampanyekan pentingnya pemberian ASI.

Ria mengatakan pihaknya terus mendorong para ibu untuk memberikan ASI kepada bayi melalui edukasi hingga kampanye aturan hukum tentan pemberian ASI.

Kami ingin anak Indonesia jadi generasi yang berprestasi untuk itu kembali kepada fitrah yaitu memberikan ASI, katanya.

Meskipun bergerak dengan keterbatasan tidak membuat AIMI Sumbar surut dan terus giat melakukan edukasi baik secara langsung, kunjungan ke sejumlah institusi hingga kampanye di media.

Menurut dia gencarnya promosi susu formula di media massa hingga tempat umum menyebabkan banyak yang tidak tahu ASI adalah hak bayi dan menyusui adalah hak ibu.

Terlahir di Solok, 30 Oktober 1983 Alumni Universitas Erasmus Rotterdam Belanda bersama teman-temannya memilih untuk fokus mengampanyekan pentingnya ASI.

Berstatus sebagai ASN di Bappeda Sumatera Barat, istri dari Mevrizal tersebut disela rutinitasnya tetap membagi waktu untuk merancang berbagai program seputar sosialisasi dan kampanye ASI di Ranah Minang.

Pernah meraih peringkat 2 PNS teladan di Kabupaten Solok, ibu satu anak ini bercita-cita agar para ibu bisa dengan optimal memberikan ASI kepada bayi.

Apalagi menurutnya ASI dibandingkan dengan susu formula itu jauh lebih baik dan belum ada produsen yang bisa menciptakan susu formula dengan kandungan dan nilai gizi yang setara dengan ASI.

Ia khawatir jika tidak dilakukan kampanye dan edukasi maka akan semakin marak pandangan di tengah masyarakat susu formula adalah pengganti ASI.

Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut AIMI Sumbar pun menggelar pelatihan konseling menyusui modul 40 jam berstandar World Healt Organization (WHO) yang merupakan organisasi kesehatan dunia dan Unicef atau badan PBB yang mengurusi anak.

Para peserta dilatih menjadi konselor menyusui mengacu kepada modul 40 jam yang dibuat WHO dengan kompetensi.
Peserta Workshop dan Seminar Manajemen ASI di kalangan ibu bekerja di Padang, Jumat (10/8) (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)


Tidak hanya itu AIMI Sumbar juga merangkul para dai yang ada di Kota Padang untuk menyosialisasikan manfaat dan keutamaan Air Susu Ibu dengan menggelar workshop Keajaiban ASI dan Efek Samping Pemberian Susu Formula Pada Bayi Ditinjau dari Sisi Medis dan Hukum Syariah.

Workshop menghadirkan pembicara dari Pendiri Sentra Laktasi Indonesia dr Utami Roesli,Sp.A, Konselor Menyusui dr Fitrisia Amelin, Sp.A dan Sekretaris MUI Sumbar Nurman Agus dibuka langsung oleh Wali Kota Padang Mahyeldi.

Pada 2017 Ria juga terpilih untuk mengikuti program pertukaran profesional ke Amerika Serikat pada 23 April sampai 4 Juni 2017 setelah lolos seleksi dan menjadi perwakilan Indonesia untuk pertukaran profesional lewat program Young South East Asia Leaders Initiative - Professional Felllows Program (YSEALI - PFP.

YSEALI-PFP adalah program pertukaran profesional muda dari negara-negara ASEAN usia 25 hingga 35 tahun, digagas oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk memperkuat pengembangan kepemimpinan dan jaringan kerja sama di ASEAN.

Tujuannya meningkatkan keterlibatan para pemimpin muda pada tantangan utama regional dan global, dan memperkuat hubungan people-to-people antara Amerika Serikat dan ASEAN.

Pada program ini, peserta yang lolos akan melaksanakan internship (magang) di salah satu institusi di Amerika Serikat yang sesuai dengan pengalaman dan bidang pekerjaan peserta di Indonesia.

Tantangan

Berbagai tantangan pun dihadapinya dalam mewujudkan ASI ekslusif termasuk dari kalangan tenaga kesehatan yang belum sepenuhnya mendorong terwujudnya hal itu.

Pernah dijumpai produsen susu formula yang bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk mempromosikan produknya kepada ibu yang baru melahirkan, katanya.

Ia pernah menyaksikan bayi yang baru lahir langsung diberikan susu formula padahal harus ada izin tertulis dari orang tuanya.

Tidak jarang dijumpai ibu yang baru melahirkan diberikan bingkisan perlengkapan bayi, berisi susu formula yang akan membuat mereka berpikir bahwa ini diberikan tenaga kesehatan sehingga boleh digunakan.

Selain itu tidak jarang Ria dan teman-teman AIMI mendapatkan ejekan dari tenaga kesehatan karena dianggap terlalu berlebihan sementara pihak medis saja tidak terlalu pro aktif mengkampanyekan ASI ekslusif.

Meski pun tidak dibayar, AIMI bertekad kampanye ASI untuk menyelamatkan generasi tidak boleh terhenti demi lahirnya anak-anak Ranah Minang yang sehat dan cerdas.

Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar