Pengabdian masyarakat dosen STKIP PGRI Sumatera Barat, penyuluhan madu berkualitas

id Madu

Tim Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat tengah memberikan penyuluhan kepada masyarakat Pasia Tangah Kabupaten Solok 14 Juli 2018. (Dok Pribadi)



Padang, (Antaranews Sumbar) - Menerka kualitas madu dari lebah tidaklah dapat dilakukan dengan sesaat saja, butuh kajian analisis dan praktik di lapangan.

Hal ini juga menjadi latar belakang tim dosen STKIP PGRI Sumatera Barat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat untuk menyosialisasikan penentuan kualitas madu di Pasia Tangah Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok pada 14 Juli 2018.

Tujuan menggelar penyuluhan tentang kualitas madu mengingat di daerah tersebut banyak masyarakat mencari madu secara tradisional.

Dalam kegiatan itu dijelaskan tentang perbedaan kualitas madu berdasarkan jenis sengat lebah dan sarang di dalam serta luar rongga tanaman.

Dalam hal ini kualitas madu yang dihasilkan lebah pada sarang yang berada di dalam rongga batang tanaman dinilai lebih baik dibanding madu yang dihasilkan lebah yang bersarang di luar batang.

Dasarnya pada tingkat kepekatan zat serta kontaminasi madu. Pada madu yang dihasilkan di dalam rongga dinilai lebih baik dalam hal tingkat kontaminasi dibanding yang di luar.

Meskipun demikian penghitungan kualitas madu dapat ditentukan oleh uji organoleptik yakni warna, rasa, bau .Kesemuanya warna, rasa, bau bergantung pada sumber pakan dari lebah tersebut.

Kualitas madu juga bisa dipandang dari jenis lebah bersengat dan tidak bersengat. Namun ini tetap pada khasiat dari madu yang diujicobakan sebagai pertahanan tubuh makhluk hidup.

Hal ini juga membuktikan, madu secara langsung tidak bisa diukur kualitasnya terlebih membedakan madu buatan dan madu asli.

Bila ini lebih pada sumber penghasilnya. Madu buatan lebih pada ciptaan manusia dan madu asli disekresikan lebah.

Harapan dari kegiatan ini agar masyarakat terutama pemburu madu dapat lebih jeli dalam melihat kualitas berdasarkan kebutuhan madu di pasar.

Artinya bila kebutuhan madu untuk penyegar atau imunisasi dapat digunakan yang manis. Bila untuk pengobatan bisa madu pahit dan sebagainya.

Intinya penyuluhan ini juga mengajarkan masyarakat lebih mengenal lebah dan madu dan upaya menjadikannya peluang dalam kegiatan ekonomi. (*)

Penulis merupakan dosen bidang Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat Lebah dan madu menjadi keahlian bidang ilmunya.
Pewarta :
Editor: M R Denya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar