Sentra Industri Tenun, harapan dalam melestarikan songket Minangkabau

id Songket,Sentra Industri Tenun,Mufidah Jusuf Kalla

Istri Wakil Presiden RI, Ny Mufidah Jusuf kalla (dua dari kiri) didampingi Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat, Nevi Irwan Prayitno (dua dari kanan) serta Ketua Dekranasda Tanah Datar, Emy Irdinansyah (Kiri) melihat salah satu Songket Lintau, Selasa (8/5). (Antara Sumbar/Syahrul Rahmat)

Jika Sumatera Utara dikenal dengan ulosnya, Kalimantan Timur ada kain doyo, tenun ikat populer di Bali, tenun Toraja, tenun Flores dan Sumba, maka di Sumatera Barat ada songket.

Beragam jenis tenun yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dengan berbagai keunikan, mencirikan kearifan lokal daerah serta menunjukan betapa kayanya Indonesia akan karya seni bermutu tinggi.

Sumatera Barat juga menjadi bagian dari keragaman tenun tersebut. Beberapa daerah memiliki tenunan yang khas, mulai dari warna serta motif.

Pada buku `Menapak Jejak Songket Minangkabau` yang diterbitkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Adityawarman Padang, disebutkan Sumbar memiliki tradisi menenun yang hampir menyebar di seluruh daerah.

Beberapa daerah tersebut yaitu Tanah Datar, Agam, Limopuluh Kota atau Payakumbuh, Silungkang serta Tenun Muaro Labuah dan Solok.

Di Kabupaten Tanah Datar terdapat beberapa macam tenunan songket, seperti Songket Pitalah, Pandai Sikek, Batipuah, Tanjuang Sungayang, Lintau, Pariangan serta Padang Magek.

Beranjak dari fakta tersebut istri Wakil Presiden RI, Ny Mufidah Jusuf Kalla memutuskan mendirikan sentra industri tenun yang akan menyokong produksi serta pelestarian kerajinan yang menjadi kearifan lokal Minangkabau.

Selain itu, keberadaan Sentra Tenun yang diresmikannya pada Selasa, 8 Mei 2018 tersebut juga berangkat dari keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya jumlah penenun yang ada saat ini.

Bertempat di Kenagarian Tigo Jangko Kecamatan Lintau Buo, Tanah Datar, selaku Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Ny Mufida meresmikan sentra tenun terbesar di Indonesia yang pendiriannya melibatkan beberapa kementrian, seperti Kemenperin serta PUPR.

Menurut sosok yang akrab disapa ibu Ida tersebut, menenun adalah kebiasaan perempuan yang ada di Minangkabau dan sudah ada semenjak zaman dahulu.

Di Sumbar, beberapa motif tenunan mengambil inspirasi dari alam sekitar, seperti motif Pucuak Rabuang, Itiak Pulang Patang, Saluak Laka, dan lain-lain.

"Selain warna yang khas, motif-motif tersebut memiliki makna filosofi tersendiri," katanya.

Bahkan kain songket yang merupakan produk dari tenunan yang ada di Sumbar sudah dikenal hingga mancanegara.

Kurikulum Tenun

Untuk menunjang proses pembelajaran yang akan dilaksanakan di Sentra Industri Tenun tersebut, pihak Dekranas selanjutnya menggandeng Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemdikbud) untuk menyusun kurikulum tenun.

Ia menyebutkan nantinya Sentra Industri Tenun tersebut diharapkan berkembang menjadi sekolah tenun berbasis kompetensi yang akan melahirkan para perajin tenun di Sumbar.

Setelah adanya kurikulum khusus terkait tenun, maka ke depan diharapkan keterampilan menenun dilanjutkan dengan pengajaran di sekolah-sekolah.

Sebagai daerah yang kaya dengan potensi tenun, maka dibutuhkan lembaga khusus yang lengkap dengan kurikulumnya.

"Untuk memfasilitasi hal tersebut maka dibutuhkan lembaga berupa sekolah tenun yang memiliki kurikulum khusus yang nantinya akan melatih anak muda," ujarnya.

Selama pelatihan nantinya juga akan didatangkan pelatih dari luar Sumbar, akan tetapi tetap menjaga kekhasan tenunan tanpa menghilangkannya sama sekali.

Meningkatkan Kesejahteraan

Keberadaan Sentra Industri Tenun ini menyimpan harapan besar bagi Mufidah Jusuf Kalla yang memiliki darah Minang tersebut.

Pada sentra industri ini para perempuan Minang nantinya akan dilatih untuk menenun. Tidak hanya itu, mereka juga akan diajarkan cara mencelup benang yang nantinya akan digunakan sebagai bahan utama.

Melalui keterampilan tersebut ia mengharapkan produksi songket di daerah tersebut dapat meningkat, sehingga berdampak pada kesejahteraan penenun serta daerah.

Untuk mewujudkannya ia berpesan kepada peserta pelatihan tenun terus mengembangkan kemampuan serta keahlian dalam menenun untuk menghasilkan tenunan berupa songket yang berkualitas.

"Para perajin harus terus meningkatkan keahlian dalam menenun agar karya tersebut dapat bersaing secara Internasional," ujarnya.

Ia menambahkan keberadaan Sentra Industri Tenun juga dapat menjadi magnet bagi tenunan lain yang ada di Sumbar, seperti Tenun Pandai Sikek, Sungayang, Silungkang di Sawahlunto serta Nareh di Pariaman.

Sebagai sentra terbesar di Indonesia, sentra itu juga diharapkan dapat memacu semangat generasi muda untuk belajar tenun dan ikut melestarikan kebudayaan lokal.

Selain itu Presiden Joko Widodo juga berencana menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana Muslim dunia, sehingga dibutuhkan penguatan pada industri-industri yang ada di dalam negeri.

Untuk mencapai itu, menurutnya, dibutuhkan produk-produk unggulan dari Indonesia, termasuk dengan tenunan khas daerah.

Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi juga mengharapkan hal serupa. Selain peningkatan perekenomian daerah, hal yang lebih penting dari keberadaan sentra industri tenun adalah dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.

"Pada intinya, keberadaan sentra industri ini adalah untuk kesejahteraan masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh anak gadis yang ada di Sumbar," katanya.

Ia menyampaikan sentra tenun tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Lintau atau pun Tanah Datar, akan tetapi terbuka bagi seluruh generasi muda di Sumbar yang ingin mempelajari tenun.

Sekalipun saat ini baru ada beberapa bangunan, akan tetapi Irdinansyah menyebutkan fasilitas yang ada sudah mencukupi untuk pelaksaanaan operasional.

Selain itu pihaknya juga sudah mulai melatih sebanyak 70 orang generasi muda untuk menenun, dari jumlah tersebut tidak hanya berasal dari Lintau, akan tetapi juga dari daerah lain.

"Sentra Industri Tenun ini tidak hanya akan fokus pada tenunan atau songket akan tetapi juga bisa dikembangkan pada kerajinan lain, seperti sulaman atau pun kerajinan lainnya," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar