Titik balik kehidupan seorang gay setelah terjangkit HIV

id lgbT

Stop LGBT. (cc)

Artinya kalau pelanggan waria adalah bapak-bapak maka masuk kategori laki-laki suka laki-laki dengan demikian total pria penyuka sesama jenis diperkirakan mencapai 20 ribu orang
Dengan mengumpulkan segenap keberanian yang dimiliki pria bermasker itu melangkah ke depan aula dan siap berbagi pengalaman kelam masa lalu yakni mulai masuk dunia gay hingga akhirnya HIV.

"Saya mau buka masker ini tapi syaratnya satu, tidak ada yang mengambil gambar, sepakat semua?" tanyanya kepada hadirin diikuti anggukan semua orang yang ada di dalam Aula Masjid Raya Nurul Iman, Kota Padang.

Ia pun mulai membukajaket yang dikenakan lalu masker yang menutupi wajah dilepas.

"Inilah saya bapak dan ibu. Terinfeksi HIV sejak enam tahun lalu," katanya kepada hadirin.

Sembari menarik nafas dan menahan haru, lelaki bernama B menceritakan kisah suramnya yang terpaksa menjadi seorang gay karena butuh biaya bertahan hidup saat merantau ke Jakarta.

Keinginan mulia menjadi seorang guru pun harus dikubur karena sulit mencari biaya melanjutkan pendidikan guru ke perguruan tinggi.

Kala itu pada kurun 2000, ia memilih merantau ke Ibu Kota Negara, namun akibat sulitnya mencari pekerjaan, B tidak punya pilihan ketika ditawari salah seorang temannya menjual diri menjadi gay.

"Bukan saya tidak tahu agama, waktu SMA saya malah mengajar mengaji bagi anak-anak TPA, tapi karena tak ada lagi pilihan akhirnya saya tercebur ke dunia kelam," ucapnya lirih.

Semua hadirin diam tercekat diselimuti keharuan. Sekilas memang tak akan ada yang menduga dalam tubuh kekar pria itu bersemayam virus HIV.

Titik balik kehidupan B terjadi pada 2012 saat ia dinyatakan positif HIV. Dengan segenap upaya ia berjuang mengubah orientasi seksual dari penyuka sesama pria agar kembali normal.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak, sejak kenal beliau saya berhenti total meninggalkan dunia kelam itu kembali ke jalan yang benar," ucapnya sambil menoleh kepada pria yang sejak awal berdiri disampingnya.

Bapak yang dimaksud B adalah konsultan penyakit tropik dan infeksi Rumah Sakit Umum Pusat M Djamil Padang dr Armen Ahmad SpPd, yang tanpa kenal lelah terus mendampingi para penderita HIV bangkit dan meninggalkan perbuatan yang berisiko.

Baginya dr Armen adalah sosok bapak sejati yang terus mengingatkan para penyandang HIV, agar meninggalkan perilaku yang akan menjerumuskan seseorang menjadi pengidap penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut.

Setelah dinyatakan positif HIV, B menggunakan kesempatan hidup yang masih tersisa untuk bertobat dan meninggalkan semua perilaku menyimpang yang pernah dilakoni.

"Bagi saya hidup hanya sekali, kita tak pernah tahu kapan akan mati. Selagi diberi kesempatan akan saya gunakan untuk bertobat," katanya.

Setelah berhasil mengubah orientasi seksual B kembali menjalani hidup normal, menikah dan dikaruniai seorang putri yang kini telah duduk di bangku kelas 4 SD.

"Cita-cita anak saya cuma satu, ingin jadi dokter spesialis penyakit dalam. Kalau saya drop nanti anak saya sendiri yang akan merawat," katanya.

Kepada semua peserta seminar, ia mengingatkan untuk menjauhi perbuatan berisiko menularkan HIV dan menyarankan cek dini sebelum terlambat.

Ia meminta masyarakat menghapus stigma negatif terhadap pengidap HIV.

"Kami juga punya manusia, punya hak untuk hidup, hak bekerja, kalau ada bapak ibu butuh karyawan beri kesempatan agar kami bisa mendapatkan rezeki yang halal," ucapnya.

Pemicu HIV

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Perhimpunan Konselor VCT dan HIV AIDS Indonesia di Sumatera Barat ternyata perilaku lesbian gay biseksual transgender (LGBT) khususnya hubungan seksual antara sesama laki-laki menjadi pemicu HIV tertinggi di Sumbar.

"Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan terdapat 10.376, kasus HIV baru pada periode Januari sampai Maret 2018 dengan persentasi lelaki suka lelaki sebesar 28 persen," kata konselor Perhimpunan Konselor VCT dan HIV AIDS Indonesia, Sumbar, Khaterina Welong.

Jika dilihat dari kelompok umur maka penderita AIDS tertinggi ada pada rentang usaia 20 sampai 29 tahun sebanyak 29,3 persen.

Artinya yang terinfeksi HIV adalah mereka yang melakukan perbuatan yang berisiko 10 tahun sebelumnya atau pada usia 10 hingga 19 tahun.

Ia memperkirakan saat ini jumlah lelaki penyuka sesama jenis di Sumbar 14.469 orang dan jumlah waria 2.501 orang dengan perkiraan pelanggan 2,5 kali lipat.

"Artinya kalau pelanggan waria adalah bapak-bapak maka masuk kategori laki-laki suka laki-laki dengan demikian total pria penyuka sesama jenis diperkirakan mencapai 20 ribu orang," katanya.

Ia mengakui berdasarkan perkiraan pada 2016 jumlah lelaki penyuka sesama jenis di Sumbar paling banyak di Padang sebanyak 5.267 orang, Kabupaten Agam 903, Kabupaten Pesisir Selatan 882, Kabupaten Pasaman Barat 870 orang, Kabupaten Padang Pariaman 705 orang, Kabupaten Solok 716 orang.

Kemudian, Kabupaten Sijunjung 459 orang, Kabupaten Tanah Datar 434 orang, Kabupaten Limapuluh Kota 718 orang, Kota Pariaman 536 orang, Kabupaten Solok Selatan 339 orang dan Kabupaten Dharmasraya 518 orang.

Lalu, Kota Solok 360 orang, Sawahlunto 153 orang, Kota Padang Panjang 135 orang, Kota Bukittinggi 185 orang, Kota Payakumbuh 333 orang, dan Kota Pariaman 217 orang.

Salah satu pemicu fenomena ini karena terjadi krisis karakter di keluarga, sekolah dan masyarakat.

"Misal mengalami kekerasan waktu kecil, anak kehilangan figur ayah dan lainnya," kata dia.

Penyuka sesama lelaki menyasar seluruh kalangan mulai dari ASN, mahasiswa hingga pekerja swasta.

Selain itu, hasil penelitian menemukan penggunaan internet dan media sosial berpotensi meningkatkan penularan HIV AIDS.

Terkait dengan solusi ia menyampaikan salah satunya dengan penguatan peran keluarga terutama ayah dan penguatan peran tenaga pendidik.

Ia mengajak semua pihak bertekad dan berkomitmen menghentikan LGBT agar tidak meluas di Sumbar.

Hapus Stigma

Konsultan penyakit tropik dan infeksi Rumah Sakit Umum Pusat M Djamil Padang dr Armen Ahmad SpPd mengingatkan masyarakat menjauhi penyebab HIV bukan penderitanya, karena mereka juga punya hak hidup dan diperlakukan sebagaimana manusia lainnya.

"Dulu waktu saya sedang pendidikan spesialis kalau ketemu pasien HIV maka saya doakan semoga diberikan yang terbaik , kalau sekarang saya tekadkan harus diselamatkan," kata dia.

Berdasarkan pengalaman menangani pasien HIV kalau sudah mulai berangsur sembuh maka ia akan menasihati perlahan-lahan agar menjauhi faktor risiko.

"Jadi yang dimusuhi itu adalah penyakitnya bukan orangnya," ujarnya.

Salah satu masalah besar yang dihadapi penderita HIV dan AIDS adalah mendapatkan stigma buruk tidak hanya dari masyarakat bahkan petugas medis kadang juga ada.

Stigma tersebut banyak pasien yang terjangkit gejala HIV AIDS saat konsultasi ke dokter pada awalnya enggan menjawab ketika ditanya apakah pernah melakukan hal-hal yang berisiko.

"Saking biasanya menghadapi orang seperti itu melihat gejalanya saja saya sudah tahu, tapi di awal mereka tidak mau mengaku," ujarnya.

Hingga saat ini secara garis besar penularan HIV dan AIDS disebabkan oleh empat faktor yaitu berhubungan seks di luar nikah, berhubungan sesama jenis, penggunaan narkoba dan penularan dari ibu ke anak.

Namun kecenderungan dalam beberapa tahun terakhir yang paling tinggi adalah hubungan sesama jenis khususnya lelaki sesama lelaki, ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar