Kisah Srikandi Tangguh Kapal Perang Indonesia

id Kowal, KRI Makassar, MNEK

Kisah Srikandi Tangguh Kapal Perang Indonesia

Sersan Dua (Serda) Restianti Hilda Anggraini (tengah). (Dokumen Pribadi)

Lazimnya kapal perang identik dengan senjata, pertempuran, peralatan serba besi, patroli hingga penyergapan di tengah laut menghadapi perompak.

Namun pandangan itu terbantahkan. Sersan Dua (Serda) Restianti Hilda Anggraini yang bertugas di KRI Makasar-590 terlihat gagah memakai seragam loreng biru khas TNI AL saat meramaikan kegiatan "Internasional Multilateral Naval Exercise Komodo" (MNEK) 2016.

Perempuan kelahiran 13 Oktober 1995 di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut bersama empat Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) lainnya, yaitu Serda Nevi Puspa, Serda Nur Azizah, Serda Rahmajati Tajudin, dan Serda Juni Sahara Tanjung, telah bertugas di KRI Makassar-590 sejak September 2015.

"Tidak terasa sejak saat itu sudah hampir tujuh bulan saya dinas di kapal ini. KRI Makassar bukan hanya sekadar kapal perang, tapi kantor tempat saya mengabdikan diri," kata Hilda.

Dalam masa tujuh bulan itu sejumlah kegiatan dalam skala besar juga pernah diikuti oleh anak kedua dari tiga bersaudara itu bersama kantor berjalannya.

"Selain MNEK 2016, sebelumnya saya ikut kegiatan Indonesia Sail di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah," ujarnya.

Ia mengatakan selama menjalankan tugas itu beragam suka dan duka telah dirasakannya sebagai prajurit TNI Angkatan Laut.

Suka yang dirasakan mendapatkan berbagai pembelajaran baru, pengetahuan baru, mengunjungi tempat baru, katanya.

"Kalau dukanya ketika ada kegiatan yang lokasinya jauh dan mempunyai durasi panjang, maka saya lama di laut. Sebut saja Indonesian Sail 2015, saya satu bulan di kapal, untuk MNEK kali ini sudah hampir dua minggu sebelum kembali ke pangkalan di Surabaya," lanjutnya.

Namun ia tidak ingin menganggap hal tersebut sebagai duka, melainkan pengabdian dalam bertugas.

"Ini tugas negara, tidak tepat dikatakan duka. Karena saya menikmati semua itu," tegas Hilda, yang saat ini berada di bawah Departemen Bahari II.

Meskipun demikian ia mengaku sempat kaget ketika pertama kali menerima surat penempatan tugas di kapal perang. Karena tidak pernah terlintas dalam pikiran sebelumnya. Hanya saja kekagetan saat itu berhasil diubah menjadi kesempatan membuktikan diri.

"Ternyata benar, hasilnya tidak akan tahu sebelum mencoba. Kini hanya ada delapan Kowal yang memperkuat armada Kapal Perang Republik Indonesia," katanya.

Lima di KRI Makassar, tiga di KRI lain. Suatu kepuasan menjadi satu dari delapan orang tersebut, kata mantan siswi peraih medali perak Porprov Jatim 2013, cabang olahraga voli pantai itu.

Ketertarikannya terhadap angkatan laut telah dimiliki sejak masih berstatus sebagai siswa di SMA Negeri Olahraga Jawa Timur terinspirasi dengan sang ayah Serka Setiadi yang juga pasukan Angkatan Laut.

"Sekarang ayah dinas di Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal), namun dulu juga bertugas di KRI Pulau Rengat-711. Melihat itu dan lingkungan kerja ayah, rasanya keren saja," kata putri kedua dari Tatik Ariyanti itu.

Kendati hanya lima orang yang perempuan di antara 120 lebih personel dan awak KRI Makassar, tidak membuat Hilda merasa minder. Layaknya pejuang emansipasi wanita, dirinya tidak terima jika dipandang enteng oleh orang lain.

Proses yang telah dilewati selama tujuh bulan di KRI perlahan membuahkan hasil. Hilda yang awalnya hanya mendapatkan tugas mencat bagian kapal, pembersihan, dan lain-lain, kini sudah bisa mengoperasikan kapal perang berjenis Landing Platform Dock (LPD) itu. KRI Makassar-590 adalah satu dari empat kapal perang jenis LPD yang dimiliki Indonesia.

Menurutnya perempuan juga harus terus berjuang untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita. Ia pribadi juga tidak ingin menghentikan cita-citanya pada pencapaian saat ini.

Hilda juga telah merencanakan untuk kuliah dan mengambil bidang ilmu hukum. Bidang keilmuan itu dianggapnya sejalan dengan tugasnya saat ini.

Selama bertugas di lingkungan yang mayoritas laki-laki itu, Serda tersebut mengaku tak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak pantas.

"Alhamdulillah, semuanya baik dan seperti keluarga sendiri. Selain itu yang selalu saya ingat, saya tidak lupa dengan kodrat sehingga tahu batasan-batasan, sesuai moto Kowal Pengabdian dan Kehormatan adalah Jiwaku," kata Kowal yang masuk kategori termuda di Kowal KRI Makassar-590 itu.

Menilik sisi perempuannya, ia mengaku di kapal perang itu juga melakukan hal yang sering dilakukan oleh wanita lainnya.

"Saya ingin berumah tangga, dan tetap menggunakan pakaian perempuan jika tidak piket. Saya juga dandan, pakai bedak, dan lain-lain, tapi tentu saja tidak mencolok dan sewajarnya," jelasnya.

Sementara untuk mengobati rindu pada keluarga yang tinggal di Sidoarjo ketika sedang melaut, ia biasanya menghubungi lewat telepon seluler ketika berada kawasan yang terjangkau sinyal. Selain itu ketika pulang Hilda biasanya membawa oleh-oleh dari daerah yang dikunjungi.

Kepada perempuan lain, ia berpesan untuk terus gigih dalam memperjuangkan mimpi yang dimiliki.

"Tidak akan tahu hasilnya jika tidak dicoba. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?" ujarnya.

Sementara Kepala Staf Angkutan Laut Laksamana TNI Ade Supandi menargetkan akan memperkuat peran Kowal seperti komandan kapal dan posisi strategis lain, sehingga tidak hanya ada di posisi staf atau bagian dapur saja.

"Srikandi-srikandi ini harus bisa lebih maju dan berkembang, tidak menutup kemungkinan nanti akan menjadi Komandan Kapal Brigade, karena di Belanda Komandan Kapal Brigade-nya adalah wanita," katanya.

Ia mengatakan hal itu tentu masih perlu pendidikan kepemimpinan lebih, karena kemungkinan Kowal tersebut akan memimpin pasukan yang terdiri atas laki-laki. (*)