Logo Header Antaranews Sumbar

Rainal Rais, Gelorakan Kebiasaan Pulang Basamo

Jumat, 12 Desember 2008 10:01 WIB
Image Print
Rainal Rais

Bila bicara soal organisasi Minang di rantau, maka Drs. H. Rainal Rais Dt. Rangkayo Sati nan Mulia ini boleh disebut sebagai "mbah"-nya. Bukan soal paling dulu memimpin, tetapi Rainal dengan Sulit Air Sepakat (SAS)-nya, adalah organisasi masyarakat Minang yang paling kompak dan tersohor ke mana-mana, termasuk mancanegara. Meski bukan lagi menjadi Ketua Umum SAS, namun sosok Rainal sulit dipisahkan dari organisasi masyarakat Sulit Air, sebuah nagari yang tersuruk di antara bebukitan dengan Danau Singkarak, Kabupaten Solok itu. Setiap dia berkunjung ke pelosok daerah atas nama Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Kadin maupun Rumah Gadang, dia selalu dipanggil "Pak Ketua". Selama kurang lebih 15 tahun memimpin SAS, selain berhasil menggelolarakan kebiasaan pulang basamo tiap dua tahun sekali, ia juga berhasil memompa semangat perantau Sulit Air untuk membangun gedung serba guna di rantau masing-masing. "Gedung itu akan mampu mempersatukan perantau untuk selalu ingat kampung halaman. Gedung itu juga sebagai sarana mempersatukan perantau, dan beradaptasi dengan warga setempat," ujar jebolan Fakultas Ekonomi Unpad, Bandung ini. Di tangannya, SAS dengan 82 cabang di seluruh Indonesia termasuk empat di luar negeri itu, berhasil mendirikan 43 gedung pertemuan di sejumlah pelosok. Tahun 1996, nilai aset organisasi ini di seluruh tanah air mencapai Rp12 miliar. Keberhasilan suami Yulmatri ini tidak hanya di bidang organisasi, tetapi juga mengembangkan usaha dan mendidik anak-anaknya untuk berwiraswasta. "Semua anak saya sudah lepas, kami berdua tinggal bermain-main dengan cucu," ujar mantan calon anggota DPR-RI dari Sumatra Barat mewakili Partai Amanat Nasional (PAN) ini. Kunci sukses berusaha itu bagi Rainal adalah lobby dan pergaulan. Karena itu, setamat dari Unpad, ia langsung terjun ke organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Kadin dan HIPPI. Di Kadin ia pernah menjadi Ketua di DKI, di HIPPI dia pernah menjadi bendahara umum dan sekarang menjadi salah seorang ketua dan di tempat usahanya di kawasan Industri Pulo Gadung, ia pernah menjadi ketua kawasan ini. Pada awalnya, sulung dari 14 bersaudara ini, tidak berminat mewarisi tradisi ayahnya yang pengusaha. Rainal semula ingin menjadi pilot atau diplomat agar bisa melang-langbuana ke luar negeri. Ia sempat dipengaruhi oleh pandangan sementara orang yang menganggap enteng para saudagar. Tetapi, setelah ayahnya, Rais Taim, tewas dalam kecelakaan pesawat Merpati di Pulau Katang-katang, Padang tahun 1971, membuat Rainal harus banting stir. Ia yang semasa kuliah sudah menikah dengan dara sekampungnya, Yulmatri, terpaksa terjun ke dunia usaha, hingga akhirnya Rainal yang semula bergerak di bidang Taylor sukses mengembangkan bisnis percetakan, PT Rora Karya. Namun di balik kesuksesan perusahaan itu, ada usaha sampingan lain yang jejaknya jarang direkam orang. Ayah Rainal dan Rainal sendiri sudah terbiasa menabung dengan membeli tanah di berbagai tempat di Jakarta ini, terutama di kawasan Kemang. Tanah itu kemudian dibangun. Setelah menjadi sebuah rumah yang permanen, kemudian disewakan kepada orang asing. Jadi, "saya memang menjadi penikmat dollar, termasuk ketika krisis lalu," kata Rainal. Rainal akhirnya menyadari, tanpa menjadi pilot atau diplomat sekalipun, toh ia bisa juga ke luar negeri. Mulanya sering terbang ke Singapura untuk membeli tekstil dan kemudian dijual ke Pasar Baru, Jakarta, kemudian karena tugas dan ada kalanya pula memang sekadar untuk berlibur bersama keluarganya. "Menjadi saudagar itu, asal tekun, justru sangat enak," imbuhnya. (ssm 2008)