Jakarta, (Antara) - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan kaum buruh bakal menyatakan dukungan terhadap calon presiden (Capres) Pemilu 2014 pada perayaan Mayday atau Hari Buruh yang diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 1 Mei. "Pada perayaan Mayday nanti juga buruh akan menyatakan dukungannya kepada calon presiden 2014," kata Presiden KSPI Said Iqbal dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat. Namun, menurut dia, dukungan yang akan diberikan buruh tidak mudah karena dukungan bakal diberikan kepada capres yang dapat menjamin merealisasikan tuntutan buruh. Ia menegaskan, bila ada capres yang berani melaksanakan hal tersebut, maka sudah dapat dipastikan buruh akan satu suara dalam memberikan dukungan pada capres tersebut. KSPI juga menyatakakan bahwa kaum buruh telah mempersiapkan aksinya untuk memperingati Mayday dengan melakukan konsolidasi gerakan. "Kenapa harus dilakukan Konsolidasi gerakan? Karena Tahun ini adalah tahun bersejarah karena 1 Mei 2014 nanti adalah tahun pertama dimana buruh akan memperingati Mayday sebagai libur nasional," ujarnya. Sebelumnya, KSPI bakal memperjuangkan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) untuk buruh hingga sebanyak 30 persen pada tahun 2015, saat aksi perayaan May Day pada 1 Mei 2014. "Dalam perayaan May Day 1 Mei 2014 nanti, isu yang serius diperjuangkan oleh kaum buruh salah satu di antaranya adalah kenaikan upah minimum 2015 sebesar 30 persen," katanya. Menurut Said, hal itu penting diperjuangkan karena pada tahun 2015 mulai diberlakukannya pasar tunggal ASEAN untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dalam mekanisme pasar tunggal ASEAN itu, ujar dia, negara wajib melindungi kesejahteraan kaum buruhnya di samping mengatur mekanisme pasar tunggal ASEAN agar industri nasional tidak terpuruk yang mengakibatkan terjadinya PHK massal. Ia berpendapat bahwa hingga tahun 2014 ini, upah minimum buruh di Indonesia sangat tertinggal jauh dengan upah minimum buruh di sejumlah negara tetangga seperti Thailand, Filipina dan Malaysia. Padahal, lanjutnya, produktivitas buruh Indonesia tidak kalah baiknya dibandingkan buruh di negara lain ASEAN. "Misalnya UMP DKI yang hanya sebesar Rp 2,4 Juta, sedangkan di Thailand Rp 3,2 Juta, di Malaysia Rp 3,2 juta dan Filipina Rp3,6 juta. Padahal biaya hidup di semua negara ini sama besarnya dengan di Indonesia," katanya. (*/sun)