Uni Eropa Tempatkan Pasukan Perdamaian di Afrika Tengah
Rabu, 2 April 2014 12:17 WIB
Brussel, (Antara/Reuters) - Uni Eropa secara resmi menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Republik Afrika Tengah Selasa setelah sebelumnya sempat tertunda karena kekurangan jumlah personil dan peralatan.
Prancis dan Uni Afrika sejaih ini gagal menghentikan konflik horizontal di Afrika Tengah yang muncul setelah kelompok gerilyawan Muslim Seleka mendapatkan kekuasaan pada tahun lalu di negara yang berpenduduk mayoritas Kristen.
Pasukan Uni Eropa berkekuatan 1.000 personil itu akan bergabung 6.000 tentara dari Uni Afrika dan 2.000 dari Prancis untuk menghentikan kekerasan yang telah memakan korban ribuan nyawa tersebut. Mereka akan beroperasi di sekitar ibu kota Afrika Tengah, Bangui.
Uni Eropa sebelumnya menyetujui penempatan misi militer di Afrika Tengah pada Januari dan berharap dapat mulai menempatkan pasukan pada akhir Februari. Namun kurangnya jumlah personil membuat rencana tersebut tertunda satu bulan.
Pada pertemuan di Brussel pekan lalu, sejumlah pemerintah anggota Uni Eropa dan negara di luar organisasi tersebut menawarkan bantuan sistem pengangkutan udara serta penambahan jumlah personil.
Uni Eropa sendiri tidak memaparkan detail negara mana yang menawarkan bantuan baru.
"Dimulainya operasi ini menunjukkan niat baik Uni Eropa bergabung dengan upaya internasional untuk memulihkan stabilitas dan keamanan di Republik Afrika Tengah," kata kepala urusan kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, dalam pernyataan tertulis.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa menyatakan sedang berusaha untuk mengevakuasi 19.000 Muslim yang berada di Bangui dan wilayah Afrika Tengah lain yang dikepung oleh milisi anti-Balaka.
Pasukan anti-balaka saat ini menguasai rute utama dari dan menuju Bangui. Mereka juga berhasil merebut sejumlah kota di bagian tenggara, demikan badan pengungsi PBB, UNHCR, menyatakan. Milisi tersebut semakin terlatih secara militer setelah melakukan sejumlah serangan pada Muslim dan pasukan perdamaian Uni Afrika.
Tujuan utama dari pasukan perdamaian Uni Eropa adalah untuk mengembalikan keamanan di Bangui dan bandar udaranya--yang telah menjadi pintu keluar bagi 70.000 warga Afrika Utara sejak konflik mulai menyebar luas.
Pasukan Uni Eropa akan bertahan di Afrika Tengah selama enam bulan dengan perkiraan biaya sebesar 36 juta dolar AS sebelum menyerahkan tugasnya ke Uni Afrika.
Prancis sebelumnya mendesak negara anggota Uni Eropa untuk turut mengambil tanggung jawab terhadap keamanan internasional. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pengusaha sawit nyatakan siap hadapi EUDR, tantangan utama ada di tingkat petani
28 October 2025 21:18 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018