Jakarta (ANTARA) - Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai dinamika geopolitik global tengah bergeser dari tatanan hukum internasional menuju persaingan kekuatan yang semakin rapuh dan tidak stabil.
Pergeseran ini, menurutnya, terlihat jelas setelah langkah Amerika Serikat (AS) di Venezuela serta ancaman pengambilalihan Greenland.
Kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu, Rezasyah mengatakan Presiden AS Donald Trump memandang kritik komunitas internasional terhadap kebijakan Washington relatif lemah.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuat Trump tidak merasa perlu menyelesaikan konflik melalui mekanisme dan aturan hukum internasional.
“Jadi Trump melihat kritik dunia itu lemah, dan PBB sampai sekarang juga belum mampu melahirkan resolusi,” ujar Rezasyah.
Ia menilai situasi tersebut mendorong tatanan global bergerak ke arah multipolar yang rapuh. Dalam kondisi ini, negara-negara cenderung mengambil posisi ganda untuk melindungi kepentingannya masing-masing di tengah persaingan antar kekuatan besar.
Rezasyah juga berpandangan bahwa Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO )mulai melihat AS sebagai sekutu yang mengkhawatirkan.
