Kuala Lumpur, (Antara/IRNA-0ANA) - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa mengakhiri krisis berusia tiga tahun di Suriah memerlukan rancangan solusi politik. Berpidato dalam pertemuan di Jakarta, Jumat sebelum mengakhiri kunjungannya ke Indonesia, Zarif menekankan bahwa tidak ada intervensi militer yang bisa membantu memecahkan krisis Suriah. Menteri luar negeri menggarisbawahi bahwa tak seorang pun di luar Suriah yang bisa memaksa bangsa itu untuk memilih siapa dan bagaimana seharusnya memimpin negeri itu. Menguraikan kebijakan Iran di Suriah, Zarif mengatakan Teheran bertindak dengan pandangan bahwa hanya bangsa Suriah yang bisa membuat keputusan tentang masa depan mereka sendiri, dan negara-negara lain tidak punya hak untuk memutuskan atas nama mereka. Sementara itu mantan Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa mengatakan kehadiran Iran, Arab Saudi dan Mesir diperlukan untuk penyelesaian kemelut Suriah. Saat berbicara dalam wawancara dengan As-Safir Libanon, veteran diplomat Mesir itu mengatakan ketiga negara itu harus menjadi bagian dari penyelesaian politik untuk kemelut di Suriah. Dia lebih lanjut menekankan bahwa jalan keluar solusi untuk krisis Suriah juga membutuhkan partisipasi Rusia, Amerika Serikat, Turki, dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan memperhatikan bahwa kekuatan besar bertindak salah pada awal kemelut Suriah, Moussa mengatakan kekuatan penekan pimpinan sejumlah negara Barat biasanya bagus dalam memicu dan membakar sengketa, tetapi gagal menyelesaikan ketegangan. Dia mengatakan selama dua konferensi Jenewa terakhir, dunia telah menyaksikan ketidak-efisiensian besar kekuatan-kekuatan itu dalam mencari solusi untuk situasi di Suriah. Diplomat senior Mesir itu mencatat bahwa krisis Suriah memiliki banyak dampak negatif terhadap seluruh wilayah, negara-negara tetangga pada khususnya, termasuk penyebaran terorisme dan kehancuran serta ketidakamanan, kerusuhan dan kekacauan. (*/jno)