Presiden Maduro Ajak Obama Dialog
Sabtu, 22 Februari 2014 19:47 WIB
Karakas, (Antara/AFP) - Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Jumat menantang sejawatnya dari Amerika Serikat, Barack Obama, menyelenggarakan "dialog tingkat tinggi" di antara pemerintah mereka dan mengusulkan penujukan duta besar Washington.
Pengumuman mendadak itu mengejutkan pada saat hubungan Washington dengan Kakarkas tegang semasa pemerintah pendahulu Maduro, Hugo Chavez, dan memburuk sejak Chavez meninggal pada Maret 2013.
"Saya mengajak dialog dengan anda, Presiden Oama... antara Venezuela yang patriotik dan revolusioner dan Amerika Serikat dan pemerintahnya. Jika menyetujui tawaran itu kita akan memulai satu dialog tingkat tinggi dan menempatkan kepercayaan dalam perundingan," kata Maduro kepada wartawan-wartawan asing.
Presiden itu mengatakan ia memberikan "kekuasaan-kekuasaan khusus" kepda Menteri Luar Negeri Venezuela Elias Jaua untuk mengawasi dialog bilateral dan memulihkan hubungan pada tingkat duta besar untuk pertama kali dalam lebih dari tiga tahun.
Ia menunjuk diplomat senior Roy Chaderton, yang kini dubes Venezuela untuk Organisasi Negara Amerika (OAS) menjadi dubes untuk Washington.
Venezuela dan AS tidak memiliki dubes-dubes di masing-masing negara sejak akhir tahun 2010, dan Karakas nmengusir delapan diplomat AS pada tahun lalu termasuk tiga pekan lalu.
Chaderton telah diangkat sebagai dubes Venezuela untuk AS menjelang konflik diplomatik, saat dubes kedua negara itu meninggalkan pos mereka.
"Yang kami inginkan adalah perdamaian dengan Amerika Serikat, saling menghormati dan kerja sama," kata Maduro dan mendesak Obama juga menunjuk seorang perunding pada perubdubgan-perundingan.
"Kami mencintai rakyat Amerika, kami mengangi kebudayaan mereka, musik mereka," katanya.
Akan tetapi Maduro dalam jumpa wartawan itu menyebut tentang perbedaan-perbedaan antara kedua negara, yang meluas dalam satu gelombang protes-protes oposisi yang melanda negara anggota OPEC itu sejak awal Februari. Setidakanya delapan orang tewas dalam aksi kekerasan itu.
Presiden Venezuela itu, yang pemerintahnya menuduh pihak oposisi dibayar AS untuk bersekongkol menggulingkannya.
Badan-badan AS "telah memberikan lampu hijau bagi penggulingan pemerintah yang saya pimpin," kata Maduro nan mendesak Obama menunjukkan bahwa ia dapat "memprakarsai satu perubahan kebijakan, setidaknya di Amerika Latin dan Karibia.
Maduro mengatakan ia akan menunjuk Jaua bagi perundingan dengan AS, mendesak Obama menunjuk Menlu John Kerry atau "siapa pun".
Tetapi pemimpin Venezuela itu juga mengakui bahwa setiap dialog antara kedua negara yang lama bermusuhan itu akan "sulit dan rumit."
"Presiden Barack Obama, kini saatnya bagi elit yang berkuasa di AS memiliki perasaan yang sama apabila mereka datang melakukan perundingan langsung, atau hubungan yang setara, dengan gerakan revolusioner di Amerika Latin," katanya.
Kendatipu ketegangan politik, AS adalah pelanggan terbesar minyak dari Venezuela, yang memiliki cadanganerbesar di dunia.
Tidak ada segera tanggapan dari AS pada usul Maduro itu. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Setelah upaya kudeta, Maduro tampil bersama menteri pertahanan di televisi
01 May 2019 9:52 WIB, 2019
Presiden Venezuela saksikan parade militer perangkat keras buatan Rusia
28 January 2019 10:13 WIB, 2019
Venezuela kutuk campur tangan AS untuk menggulingkan Nicolas Maduro
10 September 2018 6:21 WIB, 2018
Setelah terpilih kembali, presiden Venezuela Maduro hadapi kecaman luar negeri
22 May 2018 5:56 WIB, 2018
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018