Wartawan yang Dituduh Teror Meninggalkan Mesir
Rabu, 5 Februari 2014 7:39 WIB
Den Hag, (Antara/AFP) - Wartawan Belanda Rena Netjes meninggalkan Mesir pada Selasa setelah dituduh menjadi bagian "sel teror" yang melibatkan Al-Jazirah, media pemancar milik Qatar, kata atasannya yang berkedudukan di Amsterdam.
"Dia sudah meninggalkan Mesir," kata seorang rekan di BNR Nieuwsradio kepada kantor berita AFP, meminta tak disebutkan namanya.
Netjes meninggalkan Kairo Selasa pagi setelah beberpa hari bersembunyi, menyusul penumpasan atas Al-Jazirah, media penyair satelit pan-Arab yang Kairo tuding mendukung Ikhwanul Muslimin, organisasi yang didepak dari kekuasaan oleh militer pada Juli.
NOS, media penyiaran nasional Belanda, melaporkan bahwa pesawat yang ditumpangi Netjes mendarat di bandar udara Schiphol Amsterdam sekitar pukul 11.00 GMT (pukul 18.00 WIB).
Kejaksaan Mesir mengumumkan Rabu lalu mereka menuduh 20 wartawan Al-Jazirah karena "mengudarakan berita-berita salah" dengan melukiskan Mesir dalam keadaan perang saudara.
Penumpasan Desember lalu melihat tuduhan-tuduhan teror dialamatkan kepada para wartawan Al-Jazirah termasuk peraih anugerah Peter Greste, wartawan asal Australia, dua orang Inggris dan seorang wanita Belanda -- sekarang diyakini adalah Rena Netjes.
Kairo menuduh mereka "mengudarakan berita-berita salah yang memberi informasi kepada duania luar bahwa negara itu menyaksikan perang saudara", di antara tuduhan-tuduhan lainnya, sementara 16 orang lainnya, semua warga Mesir, dituduh anggota kelompok "teroris" itu.
Netjes mengatakan ia diberitahu oleh kedutaan besar Belanda di Mesir bahwa namanya masuk dalam daftar untuk ditahan karena "saya dikira anggota sel teror Mariott" merujuk kepada nama hotel yang jaringan media berbahasa Inggris itu gunakan sebagai kantor sementara.
"Saya sungguh kaget," kata dia. "Saya segera menyadari apa yang terjadi ... Pada Desember saya punya janji wawancara dengan salah seorang wartawan Al-Jazirah karena dia spesialis Sinai."
Paspornya difotokopi di hotel itu "maka mudah untuk membuat satu kaitan."
Kedubes Belanda "menemukan solusi yang saya tidak ingin bahas, tetapi mereka menemukan tempat aman bagiku dan mengontak penguasa Mesir."
Netjes diberitahu Senin siang bahwa dia dapat meninggalkan negeri itu.
Pemerintah yang dibentuk militer Mesir menumpas satuan-satuan yang berafiliasi dengan Al-Jazirah menyusul penggulingan Presiden Mohamamd Moursi pada Juli, menuduh media penyiaran itu melakukan liputan pro Ikhwanul Muslimin.
Beberapa wartawan Al-Jazirah juga masih ditahan, termasuk Abdullah Elshamy, seorang wartawan untuk stasiun berbahasa Arab yang ditahan pada 14 Agustus. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Lembah Anai : Keindahan alam, tantangan konservasi dan tata ruang yang berkeadilan
12 February 2026 10:04 WIB
Reformasi Kultural: Polri Menuju Institusi Sipil yang Memihak Masyarakat.
11 February 2026 19:49 WIB
Dukung ATR/BPN dalam pelaksanaan KKN Pertanahan, Gubernur DIY: Tata kelola yang baik lahir dari kolaborasi
11 February 2026 14:56 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Dua Meriam yang Menolak Pergi: Jejak Jepang di Tengah Hijau Lapangan Golf Semen Padang
10 February 2026 10:53 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018