Jakarta, (Antara) - Bank Indonesia menilai perubahan penggunaan perhitungan tahun dasar baru inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dari tahun dasar 2007 menjadi tahun dasar 2012 bukan merupakan suatu bentuk manipulasi statistik agar inflasi terlihat baik. "Jangan diartikan ini (perubahan tahun dasar inflasi) untuk memanipulasi statistik. Ini adalah sesuatu yang wajar dan merupakan langkah positif," kata Kepala Grup Asesmen Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Doddy Zulverdi saat diskusi dengan wartawan di Jakarta, Selasa. Menurut Doddy, tahun dasar inflasi 2012 lebih mencerminkan pola konsumsi masyarakat yang mencakup 82 kota dibandingkan tahun dasar inflasi 2007 yang hanya 66 kota. Selain itu, jumlah komoditas juga bertambah dari sebelumnya 774 komoditas menjadi 859 komoditas. "Tahun dasar inflasi yang sekarang lebih representatif, selain itu cakupan komoditas juga meningkat," ujar Doddy. Secara bobot, lanjutnya, persentase untuk makanan juga mengalami penurunan dari sebelumnya 36,12 persen menjadi 35,04 persen. Sebaliknya, untuk nonmakanan naik dari 63,88 persen menjadi 64,96 persen. "Mengecilnya porsi volatile food, diharapkan sensitivitas volatile food terhadap inflasi juga makin mengecil," kata Doddy. Dengan digunakannya tahun dasar inflasi yang baru tersebut, Doddy berharap dapat memperkuat perhitungan inflasi yang selaras dengan perubahan pola konsumsi masyarakat dan perkembangan ekonomi, yang pada gilirannya dapat mendukung proses formulasi bauran kebijakan di Bank Indonesia. "Ini juga akan lebih membantu BI dalam melakukan proyeksi inflasi ke depan," ujar Doddy. (*/jno)