Putaran Pertama Perundingan Damai Suriah Hasilkan Jalan Buntu
Jumat, 31 Januari 2014 20:27 WIB
Jenewa, (Antara/Reuters) - Putaran pertama perundingan damai soal Suriah berakhir hari Jumat dengan kedua pihak bertikai bersikukuh dengan sikapnya masing-masing.
Sementara itu, penengah perundingan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan rasa frustrasinya bahwa ia bahkan tidak dapat menghasilkan kesepakatan soal pembukaan akses bantuan bagi para warga sipil yang terperangkap di kota yang terkepung.
Setelah selama satu pekan perundingan dilaksanakan di markas besar PBB di Jenewa, kedua pihak yang bertentangan dalam perang saudara di Suriah masih terjebak pada pertanyaan tentang bagaimana melanjutkan pembicaraan.
Pertemuan penutup hari Jumat diperkirakan akan menjadi seremonial, dengan delegasi pemerintah dan oposisi dijadwalkan kembali bertemu sekira tanggal 10 Februari.
"Saya berharap bahwa pada pertemuan berikutnya, ketika kami bertemu kembali, kita akan dapat melakukan pembahasan yang lebih tersusun," kata penengah PBB, Lakhdar Brahimi.
Brahimi merasa "sangat-sangat kecewa" bahwa iring-iringan kendaraan pembawa bantuan PBB masih menunggu tanpa hasil untuk dapat memasuki Kota Tua Homs, yang dikuasai oleh pemberontak.
Menurut Amerika Serikat, di kota itu para warga sipil mengalami kelaparan.
Juru bicara PBB Jens Laerke mengatakan perundingan masih berjalan dan kedua belah pihak di lapangan berupaya membawa iring-iringan pembawa bantuan bisa masuk ke Homs.
"Tetapi sayangnya, saya baru saja menerima kabar terbaru bahwa, tercatat pada pagi ini, iring-iringan tersebut tidak bergerak."
Dengan tidak ada pencapaian menyangkut hal-hal substantif, para diplomat mengatakan bahwa prioritas saat ini adalah hanya menjaga proses perundingan terus berjalan dengan harapan bahwa sikap-sikap keras suatau saat bisa melunak.
Pertemuan pertama antara pemerintahanan Presiden Bashar al-Assad dan lawannya --setelah tiga tahun terakhir berlangsungnya perang saudara-- dimulai pekan lalu dengan penyelenggaraan konferensi internasional.
Pada konferensi itu, kedua belah pihak menetapkan posisi tegas yang tidak pernah mereka berikan sebelumnya.
Perundingan berkali-kali tampaknya terancam buyar sebelum mereka memulai pembicaraan dan hanya dengan mendudukkan kedua delegasi di satu ruangan sudah dianggap sebagai sebuah pencapaian.
Kedua belah pihak mengambil langkah maju pertama pada hari Rabu dengan sepakat untuk menggunakan dokumen tahun 2012 sebagai dasar bagi pembicaraan. Namun tak lama kemudian mereka kembali memegang posisi bertentangan soal itu.
Pertemuan terakhir hari Kamis dimulai dengan sikap harmonis yang jarang ditemui, yaitu ketika semua pihak sejenak mengheningkan cipta bagi 130.000 orang yang terbunuh selama perang.
Namun, kedua belah pihak dengan cepat kembali ke posisi sengketa mereka.
Delegasi pemerintah menuduh pihak oposisi mendukung terorisme karena menolak menandatangani resolusi yang menentang aksi terorisme.
Damaskus menggunakan kata "teroris" untuk menggambarkan semua pejuang pemberontakan; negara-negara Barat telah menyatakan beberapa kelompok Islamis di kalangan pemberontak, seperti Islamic State of Iraq dan Levant (ISIL), sebagai teroris namun menganggap kelompok-kelompok pemberontak lainnya sebagai para pejuang yang sah dalam perang saudara tersebut. (*/WIJ)
Pewarta : 34
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Padang berkomitmen jadi kota pertama di Indonesia tergabung dalam UCCN bidang gastronomi
31 January 2026 18:23 WIB
Penyaluan bansos tahap pertama tetap melalui bank Himbara dan Pos Indonesia
23 January 2026 23:24 WIB
Carabao Cup: Manchester City menang 2-0 atas Newcastle di leg pertama semifinal
14 January 2026 5:52 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018