Paris, (ANTARA/Reuters) - Para penyidik anti-teror di Prancis percaya satu kelompok gerilyawan yang ditangkap pada Sabtu (6/10) sedang "merekrut Mujahidin untuk dikirim ke Suriah dan merencanakan serangan di Prancis", kata seorang jaksa Paris. Anggota kelompok tersebut telah "merakit cukup bahan untuk membuat bom dengan ukuran yang sama dengan peledak yang digunakan dalam gelombang serangan maut" pada pertengahan 1990-an, kata Jaksa Paris Francois Molins. Penggeledahan polisi pada akhir pekan lalu membongkar "satu kelompok yang barangkali paling berbahaya --yang dipandang di Prancis-- sejak 1996", kata Molins dalam satu taklimat, Kamis. Dalam operasi itu, seorang tersangka lagi ditembak hingga tewas karena "ia menembak polisi". Tujuh tersangka menjalani pemeriksaan resmi pada Kamis karena dicurigai "ikut dalam kegiatan teror", demikian laporan Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Kamis malam. Dua dari ketujuh orang tersebut juga dicurigai memainkan peran dalam mencari relawan "untuk bergabung misi Jihad" di luar negeri, termasuk di Suriah, kata Molins. Sebanyak lima orang lagi yang ditangkap pada Sabtu telah dibebaskan. Penangkapan pada akhir itu berkaitan dengan satu serangan terhadap pasar makanan halal di luar Paris pada September. Prancis tidak menghadapi serangan dengan banyak korban jiwa di wilayahnya sejak 1995, ketika satu kelompok dari Aljazair membom jaringan Metro bawah tanah dan beberapa tempat lain di ibu kota negeri tersebut. Sebanyak 10 orang tewas dan tak kurang dari 200 orang lagi cedera dalam peristiwa itu. (*/sun)