Bangkok, (Antara/Xinhua/Reuters) - Tentara Thailand telah dikerahkan di berbagai tempat di Bangkok untuk melindungi para demonstran anti-pemerintah yang sudah mulai bergerak sejak Senin pagi untuk menutup ibu kota, kata juru bicara militer Winthai Suwari. Para prajurit juga berkewajiban untuk memelihara hukum dan ketertiban, kata Winthai dikutip oleh surat kabar The Nation pada Senin. Unit-unit tentara juga telah dikerahkan untuk mengawasi orang-orang dan melindungi mereka dari tindakan yang merugikan, kata Winthai. Upaya pelumpuhan Bangkok sejauh ini telah mempengaruhi lebih dari dua juta orang di meluber di ibu kota. Ribuan pekerja medis telah bergabung dalam operasi itu, yang menuntut reformasi politik sebelum pemilihan umum. Pihak militer tidak akan mengganggu proses politik, kata Winthai, mengacu pada usulan Komisi Pemilihan Umum bahwa pemilihan ditunda dari 2 Januari menjadi 4 Mei. Seratus warga Thailand yang tinggal di New York dilaporkan juga menggelar aksi unjuk rasa di Time Square sebelumnya untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap operasi pelumpuhan. Sementara itu Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra Senin mengundang para pemimpin demonstran anti-pemerintah dan partai-partai politik untuk membahas usulan Komisi Pemilihan untuk membahas kembali tanggal pemilihan sela yang diserukan 2 Februari, kata seorang pembantu seniornya Senin. Para menteri sampai sekarang mengatakan penundaan tidak mungkin di bawah konstitusi, namun Komisi Pemilihan mengatakan pihaknya bisa mendorong kembali dan salah satu anggota telah menyarankan pemilu sela diundurkan 4 Mei mendatang. "Perdana menteri berpikir bahwa masih ada beberapa butir yang tak jelas dalam proposal Komisi Pemilihan. Cara terbaik adalah bertemu dan mendiskusikan usulan itu," kata Suranand Vejjajiva, sekretaris jenderal untuk perdana menteri, kepada wartawan. Para demonstran anti-pemerintah bergerak untuk "melumpuhkan" Bangkok, Thailand, pada Senin dalam upaya menggulingkan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dan membentuk pemerintahan baru, karena meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik di negara itu bisa mengarah pada perang saudara. Para demonstran yang dipimpin oleh mantan politisi oposisi Suthep Thaugsuban mulai memblokir persimpangan jalan-jalan besar di Bangkok pada Minggu malam (12/1) untuk menciptakan kekacauan lalu lintas, dan diperkirakan 12 juta orang telah "menyumbat" setiap jalan utama di kota itu. Pergolakan tersebut tampaknya merupakan bab terakhir dari konflik yang berlangsung selama delapan tahun, antara masyarakat kelas menengah dan pendukung pemerintah dengan sebagian besar masyarakat miskin di Thailand, yang adalah pendukung Yingluck dan saudaranya mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra. Thaksin sendiri digulingkan dari pemerintahan oleh kelompok militer pada 2006 dan dijatuhi hukuman penjara pada 2008 atas tindak penyalahgunaan kekuasaan. Namun, Thaksin masih memiliki pengaruh besar dalam dunia politik Thailand, dan ia menjadi kekuatan utama bagi pemerintahan adiknya, Yingluck Shinawatra. (*/sun)