Belfast, Inggris, (Antara/AFP) - Sebuah bom meledak di Belfast di lokasi yang berbeda dengan yang diberikan dalam peringatan telepon, dalam apa yang menteri Irlandia Utara Inggris sebut sebagai "serangan sembrono". Panggilan telepon ke newsroom Belfast mengklaim perangkat telah ditinggalkan di sebuah hotel, memaksa evakuasi Pusat Kathedral di ibu kota Irlandia Utara yang penuh dengan orang-orang menjelang Natal. Namun, perangkat itu meledak di tempat lain di satu distrik sebelum pukul 07.00 waktu setempat pada Jumat. Tidak ada laporan mengenai adanya korban luka. Hal ini belum diketahui apakah bom yang meledak di jalan setapak dengan restoran yang sibuk itu adalah sebuah perangkat kecil atau yang lebih besar tetapi sebagian yang meledak. Polisi bulan lalu memperingatkan atas meningkatnya aktivitas kelompok paramiliter pembangkang di republik itu yang menginginkan provinsi Inggris tersebut untuk menjadi bagian dari Republik Irlandia. Kepala Kepolisian Inspektur Alan McCrum mengatakan pemboman itu berpotensi untuk membunuh atau menyebabkan cedera serius. "Ini adalah serangan terhadap rakyat Belfast yang kehidupan mereka berlangsung normal," katanya. "Mereka yang melakukan serangan itu tidak menawarkan apapun kecuali gangguan dan kehancuran." Menteri Irlandia Timur Theresa Villiers mengatakan itu adalah "serangan sembrono " . "Pada salah satu malam tersibuk tahun ini dengan orang-orang menikmati pesta menjelang Natal, serta semua orang dalam tahap akhir dari belanja Natal, hal itu menunjukkan bahwa para teroris ini merosot ke level terendah baru." Menteri Kehakiman Provinsi David Ford mengatakan itu adalah upaya untuk " membunuh dan melukai orang-orang yang tidak bersalah". Ledakan itu terjadi setelah sebuah bom besar yang ditempatkan di dalam mobil dibajak dan sebagian meledak di Belfast pada 24 November, juga tanpa menimbulkan korban. Lebih dari 3.500 orang meninggal selama tiga dekade kekerasan antara Republiken Katolik dan Serikat Protestan yang ingin tetap menjadi bagian dari Inggris. Kerusuhan sebagian besar diakhiri oleh kesepakatan damai 1998 yang menciptakan pembagian kekuasaan pemerintahan antara dua komunitas tersebut, meskipun kekerasan tingkat rendah terus berlanjut. (*/sun)