Kabupaten Agam (ANTARA) - Setiap bulan Suci Ramadhan tiba, umat muslim selalu menyambutnya dengan penuh suka cita.

Di Sumatera Barat, satu hari menjelang puasa, masyarakat mulai membeli sejumlah kebutuhan seperti daging sapi, bumbu-bumbu dan sejenisnya untuk dimasak menjadi rendang. Biasanya, kuliner khas Minangkabau ini menjadi masakan pembuka di hari pertama sahur maupun saat berbuka puasa.

Hari pertama Ramadhan merupakan momentum yang paling ditunggu-tunggu karena semua kerabat berkumpul dalam satu rumah untuk menyantap makan sahur dan berbuka bersama.

Namun, kehangatan itu tidak sepenuhnya bisa dirasakan oleh semua orang. Ramadhan 1447 Hijriah menjadi sangat berbeda bagi sebagian orang terutama para penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat.

Jika selama ini menyantap makan sahur dan berbuka puasa lengkap dengan anggota keluarga besar dilaksanakan di rumah, kini hal itu tidak tidak mereka rasakan terutama bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga karena disapu banjir bandang.

Salah satunya dialami oleh Yuni Efnita, warga Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ramadhan 1447 Hijriah menjadi hal yang paling emosional yang pernah ia lalui selama hidupnya.

Di bulan yang penuh keberkahan, Yuni merasa ada yang tidak lengkap karena ia tak bisa lagi melihat sosok adik perempuan beserta keponakannya yang baru berusia lima tahun. Keduanya turut menjadi korban galodo, begitu masyarakat Minangkabau menyebut banjir bandang.

"Ramadhan tahun ini, hati saya sangat sedih," kata Yuni sambil meneteskan air matanya.

Yuni Efnita mengusap air matanya saat menceritakan perjuangannya pada satu Ramadhan di huntara SD Negeri 05 Kayu Pasak, Kabupaten Agam, Kamis (19/2/2026). Antara/Fandi Yogari

Sejak menetap di tempat hunian sementara (Huntara) SD Negeri 05 Kayu Pasak, Yuni selalu bersedih ketika melihat kedua keponakannya yang kini sudah tidak mempunyai Ibu kandung. Kesedihannya semakin mendalam bilamana menyaksikan kedua bocah malang itu harus ditinggal pergi ayahnya yang harus pergi bekerja. Bahkan, kerap Yuni menyaksikan langsung keponakannya selalu menangis saat ayahnya pergi bekerja.

"Iba hati saya melihat anak-anaknya setiap bertemu. Apalagi ini suasana bulan Suci Ramadhan," ujarnya yang tak hentinya meneteskan air mata.

Di saat bersamaan, Yuni juga harus selalu menjawab setiap pertanyaan yang datang berulang dari buah hatinya, kenapa kehidupan mereka berubah total dan harus menetap di Huntara yang sangat sederhana itu.

"Anak-anak sering bertanya kenapa kondisinya seperti ini," kata dia.

Setiap pertanyaan yang dilontarkan buah hatinya, setiap itu pula ia meneteskan air mata. Sebagai seorang Ibu, ia terus berusaha menjelaskan sesederhana mungkin kepada ketiga buah hatinya.

Lambat laun, anak-anaknya mulai memahami kenapa mereka harus tidur, makan sahur dan berbuka puasa di ruangan berdindingkan asbes tersebut. Meskipun berat bagi anak yang masih berusia sembilan tahun, Yuni selalu berusaha menyampaikannya dengan penuh kasih sayang.

"Awal-awal bencana terjadi, anak saya sangat sulit menerima kenyataan ini. Tapi, saya selalu berusaha memberikan pengertian padanya," ujarnya sambil mengusap air mata yang terus jatuh di pipinya.

Beruntung bagi Yuni dan suaminya, didikan keagamaan sejak dini yang selalu diajarkan pada anak-anaknya menjadi pondasi terakhir bagi anaknya hingga bisa menerima keadaan itu.

Sedari dini, anak-anaknya dilatih dan diajarkan nilai-nilai keagamaan. Bahkan, anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah mampu melaksanakan puasa sunah Senin dan Kamis. Didikan ini menjadi modal baginya dalam menunaikan ibadah puasa pada Ramadhan 1447 Hijriah.

Di hari pertama puasa, Ibu tiga anak ini tampak sabar menyuapi anak bungsunya untuk menyantap makan sahur. Sementara, anak laki-laki dan perempuannya juga menikmati makanan yang sudah disiapkan sejak sore sebelumnya.

Di sela-sela suapan anaknya, sesekali ia juga mengisi perut dari piring yang sama untuk bekal menjalani ibadah puasa. Di ruangan yang sederhana itu, mereka bisa melalui ujian Ramadhan pertama dari Huntara di tanah bencana.

Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Yuni bersama anggota keluarganya, Ibnu Riaga juga harus melalui sahur dan berbuka puasa pertama di Huntara SD Negeri 05 Kayu Pasak dengan perasaan yang bercampur aduk.

Bagi Ibnu, makan sahur dan berbuka perdana di Huntara menjadi sebuah keadaan dilematis yang tidak pernah sedikitpun terpikirkan di benaknya. Di satu sisi, Bapak tiga anak (satu meninggal) ini masih bersyukur dapat bertemu dengan Ramadhan. Namun, di sisi lain, ia sedih karena kehilangan anak yang paling disayangi dan istri tercinta.

Sahur dan berbuka puasa pertama kali ini ia ditemani dua anaknya, saudara perempuan, kakak ipar dan kemenakan yang datang dari Aceh untuk menjenguknya. Meskipun masih ada keluarga yang menemani di momentum 1 Ramadhan, namun perasaan sedih tak bisa ia sembunyikan.

Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya ia makan sahur dan berbuka puasa tidak lagi ditemani oleh istri tercinta dan buah hatinya yang berpulang saat bencana banjir bandang melanda daerah itu pada 27 November 2025.

"Di satu sisi senang karena ada kakak yang datang jauh-jauh dari Aceh untuk menemui saya. Tapi, di sisi lain saya juga sedih karena kehilangan anak yang paling disayangi dan istri tercinta," kenang dia.

Ibnu bercerita setiap bulan puasa, ia selalu dibangunkan oleh istrinya untuk makan sahur. Namun, perlakuan itu kini tidak lagi pernah ia rasakan semenjak kepergian istrinya.

Salah satu hal yang hingga kini paling membekas di ingatannya ialah selalu dimarahi istrinya menjelang makan sahur. Pasalnya, setiap istrinya membangunkan untuk makan, setiap itu pula Ibnu selalu tertidur.

"Saya seperti anak kecil setiap makan sahur. Setiap dibangunkan makan sahur, saya selalu tertidur," kenang dia sembari tersenyum.

Di balik musibah yang dialaminya, Ibnu percaya Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada umatnya di luar batas kemampuannya. Atas dasar itulah ia selalu percaya bisa melewati cobaan tersebut.

Ibnu yang juga guru silat itu tidak menampik di awal-awal bencana terjadi, dan mengetahui anak dan istrinya menjadi korban banjir bandang, pikirannya kosong.
Bahkan, ia sempat 15 hari tidak menyadari betul dengan siapa saja ia berkomunikasi.

Kehilangan istri dan anak memang menjadi pukulan telak baginya. Namun, di satu titik, ia tersadar saat menatap wajah kedua anak lelakinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Jika terus bersedih, maka kedua anaknya akan turut rapuh dan berdampak tidak elok bagi keduanya.

"Kedua anak menjadi alasan saya untuk bangkit dari keterpurukan," ujar dia.

Perlahan ia mulai bangkit dan mencari kesibukan agar bisa sedikit demi sedikit menghalau kegalauannya. Puncak kebangkitannya ialah ketika memutuskan bekerja menjadi kepala mandor pengerjaan Huntara bersama Hutama Karya. Kini, ia telah bekerja dan berhasil memboyong 26 warga lokal dimana lima atau enam di antaranya merupakan penyintas banjir bandang.

Kendati hari-harinya sudah diisi dengan rutinitas sebagai kepala mandor, memori-memori indah bersama anak dan istri kerap melintas di pikirannya. Salah satunya ketika ia berangkat kerja melintas di depan taman kanak-kanak tempat anaknya dulu bersekolah sebelum bencana.

"Tanpa sadar kadang saya meneteskan air mata setiap bertemu anak TK," ujarnya.

Jiwa kebapakan yang kehilangan anak bungsu memang tak bisa ia tutupi, sesekali bilamana bertemu anak TK, Ibnu kerap memberikan tambahan uang jajan. Baginya, tindakan kecil itu sudah cukup untuk sekadar melepas kerinduan kepada anaknya yang telah berpulang.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dua sisi Ramadhan di bawah atap Huntara