Logo Header Antaranews Sumbar

Naluri berdagang yang menyelamatkan Pesmi dari stres pascabencana

Rabu, 18 Februari 2026 15:39 WIB
Image Print
Pesmi Ermi penghuni huntara SD Negeri Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan duduk menunggu pembeli di depan huntara sekaligus warung sederhana miliknya di Kabupaten Agam, Rabu (18/2/2026). ANTARA/Muhammad Zulfikar

Kabupaten Agam (ANTARA) - Hampir tiga bulan berlalu bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Tanah Minangkabau. Duka dan kenangan kelam itu masih menyelimuti masyarakat, terutama mereka yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh sanak saudara yang menjadi korban.

Secara perlahan masyarakat memang sudah mulai bangkit dari keterpurukan yang menimpa kampung halaman mereka. Bayang-bayang dan memori dahsyatnya sapuan banjir, terus terekam dalam ingatan.

Begitu juga yang dialami Pesmi Ermi, warga hunian sementara (huntara) SD Negeri 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ibu empat anak yang sudah menginjak usia senja ini berusaha bangkit dari bayang-bayang yang kerap melintas di benaknya.

Kehilangan harta benda atau mata pencarian bukanlah penyebab hingga kini ia masih kerap bermurung diri. Kegundahan hatinya tak lain karena harus menerima kenyataan pahit Ramadhan tahun ini, ia tidak lagi bisa menyantap makan sahur dan berbuka bersama dengan anak perempuannya akibat disapu banjir bandang di akhir November 2025.

Jika dikenang, kata dia, perasaan sangat sedih. Anak kedua dari empat bersaudara itu baru saja menikah tiga bulan, sebelum bencana terjadi. Kesedihannya makin mendalam mengingat kepergian anak perempuannya disertai oleh calon cucu yang baru berusia tiga bulan dalam kandungan ibunya.

Perempuan yang bersuamikan laki-laki Madura ini menyadari, bersedih, apalagi meratapi keadaan, bukanlah sesuatu yang baik, meskipun sangat berat untuk berpura-pura bahagia di tengah situasi pascabencana.

"Di awal-masuk huntara, saya sering bermenung dan tiba-tiba menangis karena ingat anak perempuan saya yang sedang hamil tiga bulan disapu banjir bandang," kenang dia.

Ramadhan bangkit

Menjelang masuknya bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, Pesmi yang juga seorang guru mengaji di taman pendidikan Al Quran di Nagari Salareh Aia, perlahan mencoba bangkit. Ia sadar apa yang selama ini dialaminya merupakan ujian dan cobaan dari Tuhan.

Ia tak ingin terus berlarut-larut dalam kesedihan dan mencoba mencari kesibukan untuk mengusir memori-memori masa lampau yang kerap melintas di pikirannya. Di suatu ketika, ia terpikirkan untuk berjualan di huntara yang ditempati, saat ini.

Berdagang bukanlah sesuatu yang baru bagi Pesmi dan suaminya yang bernama Suparmanto. Pasangan suami istri ini sudah berdagang sejak bertahun-tahun. Kini, aktivitas itu kembali ia mulai dari nol, dengan menjual berbagai kebutuhan harian, seperti makanan ringan, gas elpiji, umbi-umbian, lele asap, minuman kaleng, kacang-kacangan, dan lain sebagainya.

"Sebenarnya, awal berdagang di huntara untuk menghilangkan stres, tapi saya sadar, ini juga demi membiayai pendidikan anak," ujarnya.

Untuk modal awal, Pesmi memanfaatkan tabungan dan sejumlah uang yang dikirimkan oleh kerabatnya dari Tanah Jawa. Meski jual belinya tidak sebesar sebelum dilanda bencana, namun pundi-pundi rupiah itu sudah menjadi penyemangat untuk berani bangkit.

Di awal-awal berdagang, ia bersama suami pergi ke daerah Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, untuk membeli mesin kukur kelapa. Hal ini mengingat belum ada satupun warga yang menjual kelapa parut untuk kebutuhan selama di huntara.

Selain untuk mengisi kesibukan harian, berdagang juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus membiayai anaknya yang kini masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Padang.

Pesmi paham betul, jika hanya mengharapkan bantuan dari orang lain atau pemerintah saja, maka cita-citanya menjadikan anaknya orang yang sukses tidak akan pernah terwujud.

Tak hanya bersemangat berdagang, perempuan berdarah Minangkabau ini juga antusias menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah. Bahkan, ia bersama suami menyempatkan diri menonton Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama pada Selasa (18/2) malam lewat televisi.

Pesmi Ermi (kanan) bersama suaminya Suparmanto (kiri) menonton siaran langsung Sidang Isbat di huntara SD Negeri Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Selasa malam (17/2/2026). ANTARA/Muhammad Zulfikar

Ia merasa gembira menyambut Ramadhan, meskipun sama sekali tidak pernah menyangka akan melaksanakan puasa 2026 di huntara, sekaligus tanpa anak perempuannya yang turut menjadi korban banjir bandang.

"Mungkin ini ujian dari Allah, kami harus sabar dan kuat menghadapinya," ujar dia.

Senada dengan Pesmi, Evi, pedagang, sekaligus penghuni huntara 05 SD Negeri Kayu Pasak, mengaku sudah berjualan sejak 10 hari terakhir. Ia bersama suaminya memberanikan diri membuka tabungan Rp6 juta hingga Rp7 juta, sebagai modal awal berdagang.

"Dulu, sebelum bencana, kami memang sudah berjualan barang kebutuhan harian. Kini, sejak tinggal di huntara, usaha berdagang kembali kami lanjutkan, demi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Bagi Evi, pasrah dengan keadaan bukanlah pilihan bijak. Meski masih diselimuti rasa trauma akibat bencana di akhir tahun 2025, namun kehidupan tetap berlanjut dan harus diperjuangkan.

Perjuangan Pesmi dan Evi yang berdagang di huntara tidak hanya mengajarkan tentang semangat atau perjuangan. Lebih jauh dari itu, apa yang mereka lakukan semakin menegaskan jiwa berdagang orang Minangkabau tidak pernah padam, meski di tengah situasi sedih, sekalipun.

Sebagai tambahan informasi, huntara SD Negeri 05 Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, baru saja diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (PMK) dan Kebudayaan Pratikno bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian pada 24 Januari 2026. Di kawasan ini, pemerintah membangun 117 huntara sebagai respons percepatan pemulihan dampak bencana.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Naluri berdagang yang menyelamatkan Pesmi dari stres pascabencana



Oleh
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026