Logo Header Antaranews Sumbar

Meremajakan kota tua Padang

Kamis, 30 April 2026 20:25 WIB
Image Print
Pengunjung menaiki kafe terapung di Sungai Batang Arau, Padang, Sumatera Barat. ANTARA FOTO/Fitra Yogi.

Padang,- (ANTARA) - Sore itu langit mendung menyelimuti Kota Padang, membuat suasana terasa sendu.

Dari atas Jembatan Siti Nurbaya, sinar matahari tampak tertahan awan, membiaskan cahaya redup yang menyapu kota. Di bawahnya, perahu-perahu nelayan membelah arus Sungai Batang Arau yang kecokelatan.

Nuansa sendu itu justru menarik pengunjung. Mereka datang ke bantaran sungai, singgah di kafe-kafe tepian, atau mencoba pengalaman kuliner sambil menyusuri sungai legendaris tersebut.

Salah satu kafe menawarkan konsep terapung. Dua perahu fiber berbentuk persegi dinyalakan, masing-masing dilengkapi sofa melingkar dan meja di tengah. Di atasnya, tujuh perempuan menikmati makanan dan minuman, sementara seorang operator mengendalikan mesin tempel, membawa perahu perlahan ke arah hulu.

Kafe terapung ini kian diminati sebagai cara baru menikmati wisata Kota Padang, terutama karena tidak semua orang bisa menyusuri Batang Arau yang sarat sejarah.

Dahulu, Batang Arau merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan penting di Pantai Barat Sumatera. Sungai ini menjadi saksi perkembangan Padang, dari kota dagang tradisional hingga menjadi kota modern.

Jejak masa itu masih tampak melalui deretan bangunan tua peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang membentang hingga kawasan Kampung Cina.

Suasana kota tua tetap terasa, meski sebagian bangunan telah hilang. Kawasan ini meliputi Muaro Batang Arau, Pasar Gadang, Pasar Batipuh, Pasar Mudik, Palinggam, Kampung Pondok, Kampung Jawa, hingga daerah pesisir.

Dari atas kafe terapung, pengunjung dapat melihat bangunan-bangunan tua di sepanjang sungai, termasuk bekas Kantor Guntzel & Schumacher yang kini menjadi klub hiburan malam. Setelah melewati Jembatan Siti Nurbaya, tampak pula Gedung GEO Wehry & Co, perusahaan ekspor-impor besar pada masa kolonial yang kini difungsikan sebagai kafe dan tempat biliar.

Namun, pemandangan itu tak sepenuhnya romantis. Di kanan-kiri sungai, dermaga kayu berdiri tak teratur. Saat air surut, terlihat sisa-sisa dermaga, bangkai kapal, serta endapan lumpur tebal. Sampah plastik pun kerap mengapung, terbawa arus dari permukiman, terutama setelah hujan deras.

Di sepanjang Batang Arau hingga Jalan Klenteng, banyak bangunan tua dimanfaatkan sebagai kafe, tempat hiburan, atau kantor. Namun tak sedikit yang terbengkalai, menambah kesan usang. Memasuki Jalan Klenteng, suasana terasa suram karena sinar matahari terhalang bangunan tinggi dan gudang yang kurang terawat.

Kontras terasa di kawasan Pecinan, tepatnya di sekitar Klenteng Lama See Hin Kiong. Area ini lebih terang dan hidup, dipenuhi kafe kekinian hingga simpang Pasar Tanah Kongsi. Dari sana, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan keturunan India di Pasar Batipuh hingga Pulau Air, lalu kembali ke Batang Arau hingga gedung Padangsche Spaarbank yang kini menjadi restoran.

-

Revitalisasi kota tua

Wacana revitalisasi kawasan kota tua seluas 32.690 meter persegi telah muncul sejak 1998, pada masa Wali Kota Zuyen Rais. Upaya ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, yang kemudian ditindaklanjuti melalui penetapan 74 bangunan sebagai cagar budaya.

Namun, perjalanan revitalisasi tidak mulus. Pada masa Wali Kota Fauzi Bahar (2004–2009), rencana pengembangan kawasan wisata terpadu sempat digagas, tetapi terhenti akibat gempa besar 30 September 2009. Dari 74 bangunan cagar budaya, 46 mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat.

Periode berikutnya diwarnai upaya pendataan dan pemulihan. Pada masa Wali Kota Mahyeldi (2014–2019), konsep Kawasan Wisata Terpadu (KWT) kembali diangkat. Sayembara desain digelar bersama Ikatan Arsitek Indonesia untuk menata kawasan kota tua sebagai destinasi utama. KWT mencakup Pantai Padang, Batang Arau, Jembatan Siti Nurbaya, Gunung Padang, dan Air Manis.

Sejumlah pembenahan dilakukan, seperti penataan pedagang di Jembatan Siti Nurbaya dan pembangunan pedestrian di Batang Arau melalui dukungan pemerintah pusat. Bantaran sungai yang dulu kumuh mulai terlihat lebih tertata.

Pada periode 2019–2024, Wali Kota Hendri Septa melanjutkan program penataan, termasuk mempercantik jembatan dan menyeragamkan warna beberapa bangunan cagar budaya.

Langkah kolaboratif kemudian diperkuat ketika Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyerahkan masterplan pengembangan Kota Tua Padang. Kawasan ini dibagi menjadi sembilan subkawasan, masing-masing dengan karakter budaya berbeda, seperti Kampung Tionghoa, kawasan etnis India, hingga Pasar Gadang.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Fadly Amran, revitalisasi diarahkan lebih menyeluruh melalui visi “Padang Rancak”. Program ini mencakup kawasan pesisir, Batang Arau, hingga kawasan pantai dalam rentang 2025–2030. Pada 2026, dianggarkan sekitar Rp5 miliar untuk pembenahan awal, dengan rencana peningkatan anggaran pada tahun berikutnya.

Kerja sama internasional juga mulai dijajaki, termasuk dengan Kota Hildesheim, Jerman, untuk penelitian kualitas air Batang Arau. Harapannya, kolaborasi ini dapat berlanjut dalam bentuk transfer teknologi atau dukungan pendanaan.

Menurut Guru Besar Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gajah Mada, Wiendu Nuryanti, revitalisasi kawasan Kota Tua Padang tidak sekadar memperbaiki fisik, tetapi menghidupkan kembali kota tua sebagai pusat budaya dan ekonomi. Kegiatan seperti car free night dan pentas seni telah menunjukkan potensi kawasan ini dalam menarik pengunjung dan menggerakkan UMKM.

Namun, kunci utama tetap pada pembenahan Sungai Batang Arau. Pengerukan sedimentasi, pembersihan sampah dan bangkai kapal, serta pembangunan dermaga permanen menjadi langkah mendesak. Selain itu, pengelolaan limbah dan perubahan perilaku masyarakat di sepanjang aliran sungai sangat penting untuk memulihkan kualitas air.

Penataan kawasan tepi sungai juga perlu diarahkan menjadi ruang publik yang sehat dan produktif, mulai dari pedestrian hingga area ekonomi kreatif. Dengan begitu, pengalaman wisata tidak berhenti di atas kafe terapung, tetapi berlanjut ke daratan.

Pemerintah juga perlu menghidupkan kawasan melalui event rutin, kolaborasi dengan pelaku wisata, serta penyediaan fasilitas pendukung seperti area parkir dan pusat informasi. Optimalisasi bangunan cagar budaya sebagai ruang kreatif atau museum akan memperkuat daya tarik kawasan.

Pembenahan bangunan terbengkalai pun mendesak dilakukan agar tidak kontras dengan bangunan yang sudah direvitalisasi. Penyeragaman visual akan memperkuat identitas kota tua.

Dengan langkah-langkah tersebut, pengalaman menyusuri Batang Arau dari atas kafe terapung dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kehidupan Kota Tua Padang secara utuh.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Meremajakan kota tua Padang



Oleh
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026